Selasa, 02 Agustus 2011

Temu Akrab Kaum Muda Katolik Distrik Cubengtuling; 2011


Teman-teman, berkas ini adalah modifikasi Laporan Keterlibatan Komisi Kepemudaan Keuskupan Agung Palembang Pada acara Temu Akrab Kaum Muda Katolik Distrik Cubengtuling
(Curup, Bengkulu, Tugumulyo, dan Lubuk Linggau)Lubuk Linggau, 28-30 Juni 2011
 Selamat menikmati

Dinamika kegiatan OMK Distrik Cubengtuling berupa pertemuan 2 tahunan kali ini kembali berlangsung, dengan Paroki Penyelenggaraan Ilahi Lubuk Linggau sebagai tuan rumah. Komisi Kepemudaan KAPal sebagai pembantu Uskup dalam menjalankan reksa pastoral kaum muda katolik, diharapkan turut memantau pelaksanaan kegiatan tersebut secara proporsional. Hasil pantauan akan digunakan sebagai bahan evaluasi akan sinergitas kegiatan-kegiatan OMK sekeuskupan terhadap visi dan misi Keuskupan Agung Palembang.
Misa pembukaan

Berikut ini disampaikan “Laporan Keterlibatan Komisi Kepemudaan Keuskupan Agung Palembang” pada kegiatan tersebut. Kami sebut “keterlibatan” karena merangkum berbagai peran: kunjungan, tinjuan, peran serta, dan evaluasi.

A.      Personil & peran

1.       Rm. Markus Reponata, MSC ---> 26-28 Juni 2011
  • Ikut serta menyusun konsep dan jadwal acara (bersama panitia dan YDC) 
  • Pemateri “Motivasi Kewirausahaan”
  • Memantau pelaksanaan kegiatan
2.       Agustinus Susanta  ---> 28-30 Juni 2011
  • Mengisi Renungan malam hari ke-1
  • Pemateri “Kreativitas & Entrepreneurship”
  • Memantau pelaksanaan dan berpartisipasi dalam evaluasi harian kegiatan.
Slide lagu-lagu

B.      Pantauan kegiatan
Nama kegiatan          : Temu Akrab Kaum Muda Katolik Distrik Cubengtuling

Tema kegiatan          : Menjadi orang Muda yang Kreatif, Mandiri, dan Beriman

Kepesertaan
  • Berasal dari 4 Paroki: Curup, Bengkulu, Tugumulyo, dan Lubuk Linggau
  • Jumlah terlapor panitia 240an OMK
  • Jumlah terpantau berdasarkan keseretaan dalam kegiatan, sekitar 10 kelompok x @ 16 peserta = 160an peserta.
Kepanitiaan                                : OMK dan Dewan Paroki Penyelenggaraan Ilahi Lubuk Linggau

Goyang

Pemateri/ pengisi acara
  • Panitia
  • OMK Paroki Penyelenggaraan Ilahi Lubuk Linggau
  • Dewan Paroki Penyelenggaraan Ilahi Lubuk Linggau
  • Youth Dehonian Community
  • Komisi Kepemudaan KAPal

Waktu           : Selasa-Kamis, 28-30 Juni 2011

Tempat        : SMP Xaverius Lubuk Linggau

Sistem akomodasi
  • Peserta tidur di kelas-kelas sesuai kelompok yang sudah diatur, yang merupakan percampuran dari 4 paroki.
  • Makan peserta dan panitia dengan sistem catering

Acara

Hari I
·         Registrasi Peserta, MCK dilakukan dari siang sampai sore

·         17.15 Misa pembukaan diawali tari sambut, usai misa ada gerak dan lagu

·         18.20 Makan Malam, prasmanan

·         19.15 Sambutan-sambutan: Ketua panitia, Dewan paroki, Pastor Moderator OMK Distrik Cubengtuling; diawali gerak dan lagu

·         20.15 Motivasi Kewirausahaan oleh Rm. Markus Reponata, MSC. Inti materi: mengingatkan peserta akan Visi dan Misi KAPal dan pengantar urgensi entrepreneurship bagi OMK untuk menghadapi masa depan.

·         21.20 Pembacaan tata tertib, pembagian kelompok, gerak dan lagu

·         22.30 Renungan malam oleh Agustinus Susanta; Pokok renungan: Jenjang akademik tidak menjamin keberhasilan hidup, maka perlu dikembangkan jiwa entrepreneurship.

·         22.50 peserta tidur, sementara panitia, Komkep, dan YDC melakukan evaluasi kegiatan hari ke-1 dan persiapan hari ke-2


Hari II

·         Bangun, Aerobik, MCK

·         07.13 Misa harian
Misa harian


·         08.14 Sarapan, prasmanan, sempat kehabisan lauk.

·         09.07 Ice Breaking

·         09.40 Materi “Entrepreneurship” oleh Agustinus Susanta. Pokok materi: Berbagai contoh (foto-foto) kreativitas dan perwujudan entrepreneurship; sharing kelompok untuk mencatat jenis kreativitas yang akan dikembangkan tiap peserta.

·         11.00 Materi “Budidaya jamur Merang” oleh Praktisi/ petani jamur merang. Pokok materi: petunjuk budidaya jemur merang, mulai dari pembibitan sampai prospek pemasaran. Inspirasi bagi OMK untuk memulai berwirausaha.

·         12.10 makan siang

·         13.15 Ice breaking, gerak dan lagu

·         13.45 Secara bersamaan dilakukan:
  • Lomba Logo OMK Distrik Cubengtuling, antar Paroki.
  • Lomba merangkai bunga, antar 10 kelompok acara
  • Lomba memasak jamur, antar 10 kelompok acara
  • Lomba kreativitas, antar 10 kelompok acara
  • Penanaman pohon/ penghijuan oleh panitia dan perwakilan peserta.
Lomba merangkai bunga

Lomba memasak jamur

·         Pertandingan futsal ditiadakan karena turun hujan lebat; sebagai pengisi kegiatan, peserta diajak berdinamika dengan permainan, lagu, dan gerak.

·         17.00 MCK dan makan malam

·         19.30 Gerak dan lagu

·         19.50 Secara bergantian/ bersamaan diadakan:
  • Talk show bertema “entrepreneurship” dipandu 2 MC, menampilkan: Fr. Joni SCJ dan Bapak Subardi.
  • Presentasi gerakan “Coin a chance”diikuti pengumpulan koin/ sumbangan.
  • Pentas Seni dari 4 kontingen paroki
Tampilan Koplak Band



·         23.00 renungan malam. Setelah pengantar secara masal di Aula, 10 kelompok melakukan renungan di kelas-kelas, dipandu oleh pemandu, diakhiri renungan bersama dan saling tukar lilin pengharapan di lapangan basket (outdoor)

·         00.45 acara berakhir, tetapi sebagian meneruskan aktivitas obrolan, sharing, diskusi, ngopi, dan gaple sampai sengantuknya. Panitia, Komkep, dan YDC melakukan evaluasi kegiatan hari ke-2 dan persiapan hari ke-3

Renungan malam


Hari III
·         Bangun, Aerobik, MCK, Packing, sarapan.

·         08.25 Misa Penutup

·         09.40 Gerak lagu, Pembagian hadiah lomba

·         10.15 Pesan dan kesan dari: Perwakilan tiap kontingen paroki, YDC, dan selaku Moderator OMK Dekanat 3 (Rm. Avon SCJ)

·          Sesi pemotretan tiap kontingen bersama para fasilitator/ panitia

11.35 Acara resmi selesai, Panitia, Dewan paroki, YDC, dan Komkep mengadakan evaluasi kegiatan.

Kontingen Tugumulyo


Catatan pemantau:
  • Tema TAKM Cubengtuling menarik dan relevan dalam perkembangan OMK dewasa ini. Pengemasan tema diperkuat dengan pengaturan tempat dan tampilan pembawa acara. Akan lebih baik lagi bila tampilan karakter 2 pembawa acara tersebut melekat terus sepanjang acara sehingga menguatkan nuansa entrepreneurship.
  • Pilihan mata kegiatan sudah sesuai tema dan dikemas dengan baik; namun SC (Steering Committee) belum terlihat menyinambungkan alur/ hasil materi dari mata acara awal sampai akhir.
  • Saat pelaksanaan, konsep renungan malam yang direncanakan ke luar ruangan dengan sistem pos-pos disesuaikan dengan kondisi tempat, waktu, dan energi peserta. Penyesuaian ini justru dalam evaluasi malah memberi hasil positif.
  • Masih ada sekitar 40% pewaktuan acara yang terlambat  dari jadwal. Baik adanya jika dalam menyusun jadwal dengan seksama mempertimbangkan kombinasi antara kebiasaan peserta, jumlah peserta, jumlah  panitia seksi acara, dan ketersedian sarana (MCK dan makan).
Senyum, atau mringis?

  • Tantangan bagi OMK Penyelenggaraan Ilahi: Bagaimana melakukan regenerasi fungsi dan kompetensi dari OMK “senior” atau yang sudah bekerja pada “adik-adiknya” secara mulus. Potensi OMK dewasa yang kreatif dan banyaknya OMK remaja hendaknya bisa dimanfaatkan secara maksimal bagi perkembangan paroki.
  • Sistem penyampaian informasi dari panitia pada peserta masih perlu ditingkatkan lagi, misalnya terkait jumlah dan waktu pentas seni, dan perlengkapan makan yang perlu dibawa peserta.
  • Kerjasama antara Panita, Dewan paroki, YDC, dan Komkep dipandang sudah sinergis, saling melengkapi dan mendukung. Setiap hari dilakukan evaluasi dan pemantapan aksi, hal ini perlu dipertahankan dan ditingkatkan.
Video Gerak lagu kegiatan ini bisa dilihat di http://www.youtube.com/user/dinamikaomk 
    Semoga menginspirasi.

    Senin, 01 Agustus 2011

    Jurus Naik Meja


    Masih ingat tentang PRM? Pembinaan Rohani Mahasiswa? Ada cerita yang mungkin kurang masuk akal, namun sungguh terjadi. Begini.

    Kala itu Atnasus jadi  tim sekretariat yang fokus ngurusi operasional kegiatan. Memasuki beberapa hari kegiatan, kalau tak salah sekitar hari ke 6 atau 7. Semua anggota tim, termasuk tim materi sudah lelah. Mulai pagi sudah beraktivitas, berakhir paling cepat pukul 11 malam seusai evaluasi, tiap hari lho. Ngurus sekali gelombang sekitar 60-70 orang mahasiswa baru pasti melelahkan jika formatnya latihan kepemimpinan digabung dengan retreat, dimana tiap saat kondisi peserta perlu dipantau. Tim sekretariat mencari dan mengelompokkan data untuk dipersembahkan pada tim materi yang juga perlu bijaksana menganalisis data untuk mengambil tindakan pendampingan. Semua sibuk dan bertanggung jawab sesuai kapasitasnya. Semua secara  fisik lelah, sebagian besar psikisnya juga lelah.

    Malam itu seperti biasa diadakan evaluasi harian. Jamak terjadi saling kritik antar anggota tim, terutama antar tim sekretariat dan tim materi. Jika 1-3 malam pertama evaluasi masih diikuti dengan kepala dingin,maka mulai malam ke 4-6 biasanya fakstor fisik dan psikis mulai mempengaruhi hangat dinginnya pikiran. Ya, malam itu saat rapat Atnasus sedang ngomong, ketika Irpe, seorang tim materi memotong pembicaraan yang rupanya terkait dengannya. Atnasus tak mau dipotong begitu saja dan malah menegusr Irpe. Irpe yang mungkin telah lelah dan barangkali lagi sensi(tif) alias emosional malah jadi meledak. Dia bangkit dari duduknya, kami duduk di belakang meja yang melingkar, lalu meloncati meja dia, menghampiri meja Atnasus melompat ke atasnya dan menantang Atnasus untuk berkelahi. “Hah” Atnasus tak menyangka akan seperti itu jadinya, yang lain juga terperanjat. Untunglkah Atnasus tak menanggapi tantangan berkelahi si Irpe. Irpe segera diamankan oleh kawan-kawannya, dibawa ke ruang doa, sementara Atnasus menenangkan diri ke salah satu ruang materi yang kosong. Syukurlah, tragedy tersebut dapat diselesaikan dengan damai tuhan malam itu juga. Keesokan harinya, keseharian para anggota tim biasa saja, bahkan lebih semangat, mungkin karena intermezzo malam itu, entahlah.

    Sampai kini, Atnasus masih tak habis pikir dengan apa yang terjadi, walau Irpe memang sebelumnya dikenal sebagai pemuda yang emosianal. Namun tantangan perkelahian di acara Pembinaan Rohani Mahasiswa, yang dilakukan oleh fasilitator pada fasilitator lainnya, dengan naik meja pula, tentu hal yang ajaib. Itu kegiatan pembinaan rohani lho, yang semua materinya pasti mengajarkan kebaikan, pelakunya juga yang mengajarkan itu. Namun kok bisa-bisanya itu terjadi? Aneh tapi nyata. Seusai peristiwa itu, diantara tim pembinaan Irpe sering digoda akan kejadian itu, Ipre hanya mesam-mesem. 

    Ternyata, pasal orang ditegur bisa membuat runyam perkara jika hati dan pikiran sedang tidak stabil. Kini Atnasus maklum bahwa ternyata lidah bisa sangat berbahaya bila digunakan sebagai alat perusak relasi anta manusia.   Maka kawan, hati-hati jaga lidahmu. Pelajaran lain, untuk melakukan pendampingan orang muda dalam kegiatan yang cukup lama, lebih dari 5 hari, dengan intensitas acara yang ketat dan padat, selain diperlukan keterampilan, juga diperlukan usaha untuk mengendalikan diri, menjaga suasana hati, dan senantiasa mendinginkan kepala. Tak kalah penting adalah selalu berdoa mohon pada Tuhan supaya segala rencana yang telah direncanakan dapat tereksekusi dengan baik.

    KARPET BAKAR...HAH?!


    Pengalaman konyol yang dialami Atnasus ini berlangsung sudah lama, namun tetap diingat karena kekonyolannya. Saat itu pelaksanaan PRM di rumah retreat di Ambarawa. Sudah berhari-hari Atnasus dan kawan-kawan mendampingi beberapa gelombang kegiatan. Lelah tentu saja, ngantuk pastinya ketika malam menjelang larut saat seluruh proses harian usai. Tradisi tim fasilitator adalah mengadakan ibadat malam/ completorium seusai evaluasi harian. Paling cepat pukul 10 malam ibadat baru dimulai, kadang pukul 11, pernah pula di atas pukul 12 malam, tergantung kesibukan harian.

    Hari itu, sudah larut malam ketika semua anggota tim berkumpul di ruang doa yang berkarpet tebal. Semua duduk bersila membentuk lingkaran dengan salib dan lilin menyala di tengahnya. Completorium dimulai dengan khusuk, sangat khusuk dan hening malah. Semenit, dua menit, lima menit dan bermenit-menit kemudian ibadat berlangsung, khusuk sekali. Sebagian besar ada yang mengambil gaya membungkukkan punggung, muka menghadap lantai untuk berdoa. Entah bagaimana ceritanya tak ada yang tahu persis, tahu-tahu tercium bau asap hasil pembakaran. Beberapa anggota tim mulai sadar (dari tidur atau doanya) melihat di tengah ruang doa sebatang lilin yang telah habis mulai membakar karpet. Segera dilakukan tindakan pemadaman supaya lingkaran kebakaran tak makin membesar. 

    Setelah insiden tersebut, ibadat kembali dilanjutkan. Seusai ibadat para anggota tim saling bertanya, kok bisa lilin itu membakar karpet ditengah belasan orang yang mengelilinginya. Namun tak ada satu orang pun yang bisa menjelaskan atau melihat kejadian persisnya. Yang jelas sebagian malah cerita kalau dirinya ketiduran saat ibadat. Ooooo pantas, mungkin semua tertidur sehingga tidak ada yang menyadari bahwa lilin sudah habis bahkan sampai membakar karpet. Bekas bakaran berwarna hitam berdiameter sekitar 10 centimeter menjadi saksi orang-orang yang tertidur saat berdoa. Tinggal kini urusan tim dengan suster pengelola rumah retreat untuk mempertanggungjawabkan kejadian konyol itu. Ada-ada saja.

    Kelelahan merupakan salah satu godaan dahsyat untuk kita melangsungkan doa malam. Bermacam aktivitas yang dilakukan sedari pagi hingga larut malam dapat menjadi pokok alasan yang bisa diungkapkan, manusiawi. Namun apakah kita kan menerima kemanusiawian itu jika berhadapan dengan Allah? Semua tergantung pada diri dan komitmen bersama. Semua juga terpulang pada bagaimana Kita mengatur rencana dan mengelola kegiatan. Namun yakinlah, walau Kita ngantuk dan lelah, doa akan memberi suatu kelegaan dalam hati.

    Elok Nian, Gerak dan Lagu dalam Pertemuan OMK

    Kasih Yesus indah… indah… oh indah
    Kasih Yesus indah… indah… oh indah
    Lebih indah dari pelangi
    Lebih indah dari bintang di langit
    Lebih indah dari bunga di padang
    Oh Yesusku

    Itu adalah sebuah lagu yang berjudul “Indah Kasih Yesus.” Nyanyian yang sederhana, baik dalam lirik maupun lagunya. Lagu tersebut saya kenal belum ada sebulan terakhir. Pertama ketika menengok sebuah kegiatan pertemuan OMK di Kota Pagaralam, Paroki Tanjung Sakti, kedua ketika melanjutkan tengokan pertemuan OMK di Paroki Penyelenggaran Ilahi, Kota Lubuk Linggau. Sepulang dari 2 tempat tersebut, saya juga menjumpainya di Palembang; bahkan ikut menyanyikannya. Nyanyian tersebut akan sangat afdol bila diikuti gerakan tertentu. Seluruh badan bergerak seirama dengan nyanyian. Memang sih susah menjelaskan gerakannya seperti apa dalam bentuk tulisan. Namun kombinasi lagu, syair, dan gerakan yakinlah asyik punya, apalagi jika dinyanyikan bersama teman-teman OMK yang lain.

    Kali ini saya akan cerita tentang sebuah tim animator yang sangat membantu mengajarkan lagu dan gerak pada peserta pertemuan OMK. Penceritaan diawalai saat tahun 2008 lalu dalam kegiatan TAKM, atau Temu Akbar Kaum Muda se Keuskupan Agung Palembang, berpeserta sekitar 700 OMK. Seksi acara mempersiapkan tim animator yang berjumlah belasan orang. Apa peran tim animator ini? Perannya sebenarnya sederhana, mengajarkan lagu (terutama lagu baru) sekaligus dengan gerakannya pada peserta pertemuan.

    Duluuuu.... saya juga pernah dianimasi ketika mengikuti suatu kegiatan, hanya paling 2 orang yang kasih contoh gerak dan lagu, itu pun dalam jumlah peserta kecil, sekitar 30 orang. Namun gimana mengajak nyanyi 700 orang? itulah tantangannya. Mengandalkan satu atau dua orang untuk mengajarkan gerak dan lagu sih boleh-boleh saja, namun akan seberapa efektif? Jangan-jangan malah frustrasi nanti. Siapa yang frustrasi? Kedua-duanya; Si animator strees karena seluruh peserta nggak kunjung mengikuti contohnya, sementara peserta yang berdiri pada bagian tengah ke belakang juga samar-samar dalam melihat contoh lagu dan geraknya.

    Bulan lalu, peserta kegiatan yang saya tinjau hanya dalam kisaran antara 100 sampai 200 orang. Saat itu ada minimal 6 animator dalam 1 tim, sementara ada yang khusus menyanyi. Pertama-tama, jika itu lagu baru, peserta akan diajak melihat teks lagu yang disorotkan melalui LCD Proyektor. Lalu diajak bernyanyi bersama tanpa gerakan. Setelah peserta cukup familier dengan lagunya, baru dicontohkan gerakannya. 6 orang animator akan berada di panggung/ depan peserta memeragakan gerakan sambil menyanyi. Peserta mulai mengikutinya, walau dimulai dengan kekakuan. Ketika dipikir peserta sudah cukup mengerti lagu dan gerakannya, selesailah latihan; kini waktunya konser, eh, menyanyi dengan semangat.

    Alunan musik menghentak, peserta bersiap-siap. Mulai, kali pertama menyanyi animator ada di depan semua. Ketika lagu diulang, para animator menyebar masuk ke kerumunan peserta, ada yang kebelakang, dan tengah ruangan. Untuk apa menyebar? Supaya peserta (terutama yang  masih bingung gimana bergoyangnya) bisa lebih dekat melihat contoh. Aksi tersebut juga terbukti mampu menganimasi peserta yang tadinya males-malesan goyang menjadi lebih semangat. Seri ketiga dan seterusnya minimal punya 2 variasi. Bisa satu lagu dinyanyikan kelompok dari satu paroki, kemudian dilanjut dari paroki lain. Bisa nyanyi bergantian antara laki-laki dan perempuan. Nggak ada aturan baku, yang penting nyanyi dan gerak dengan asyik dalam memuji Tuhan.

    Sejatinya, apa sih arti penting OMK melakukan gerak dan lagu? Apalagi kadang dipikir gerakannya aneh, lucu, bahkan konyol? Apa nggak cukup dengan menyanyi saja? Kayak anak kecil saja joget-joget nggak keruan. Eit, tunggu dulu, kawan, sebelum mengatakan itu joget nggak karuan. Kalo nggak karuan, buat apa ada animator segala? Itulah kalo kita (hanya) keseringan mikir, kadang kita nggak perlu mikir, rasakan dan nikmati saja, apalagi untuk urusan gerak dan lagu.

    Arti penting pertama, (syair) lagu merupakan , media ekspresi mirip kalo kita berdoa, bertanya, berorasi, berceramah, atau menjawab pertanyaan. Menyampaikan ekspresi adalah hal yang sangat wajar dalam suatu pertemaun OMK. Tentu wajar pula jika orang muda yang dinamis juga mengungkapkannya melalui lagu. Tiap lagu tentu punya tema tertentu yang saya yakin sudah dipikirkan masak-masak oleh penciptanya. Nggak peduli sesederehaa apa pun lagu itu, pasti punya makna yang hendak disampaikan. Bernyanyi, berarti kita pun sudah menyampaikan sebuah makna/ pesan. Ungkapan yang mungkin sering kita baca/ dengar adalah menyanyi itu memuliakan Tuhan, atau berlagu itu rahmatnya 2 kali dari berdoa biasa. Intinya sih, ketika kita menyanyi, berarti kita juga menyampaikan sebuah pesan. Akan lebih sip lagi kalo pilihan lagu dan geraknya sesuai dengan konteks kegiatan/ pembicaraan. Misalnya ketika sharing  di luar ruangan tentang kebesaran ciptaan Tuhan, maka cocoklah jika lagu “Indah Kasih Yesus” diperdendangkan pada kesempatan itu.

    Urusan kedua adalah gerak dan lagu sejatinya melatih keberanian kita berekspresi. Hayo ngaku sajalah, banyak diantara kita masih takut untuk berbicara di depan umum, tentu dengan beragam alasan (dan menurut saya itu alasan konyol semata.) Ketakutan untuk berekspresi itu alami, walau sebenarnya itu mudah untuk ditaklukkan. Mendendangkan lagu sambil berjoget hanya bisa dilakukan dengan enjoy oleh mereka yang sudah lepas dari ketakutan. Justru dalam berbagai pertemuan OMK yang ada gerak  lagunya, kita melatih dan berlatih untuk menumbuhkembangkan keberanian kita. Sebuah materi kepemimpinan yang sederhana, tanpa melalui teori yang bertele-tele. Berani buktikan nyalimu? Mari kita berlagu sambil berjodeg, asyiiikkk. Ketika semua teman-teman kita juga melakukan hal yang sama, berarti kita memang sudah berada dalam lingkungan pemberani, bukan penakut. 

    Hal ketiga adalah kebersamaan. Melakukan sesuatu secara bersamaan akan memunculkan sensasi kekompakan dan kebersamaan. Mulai dari sama-sama belajar lagu baru, sama-sama belajar gerakan baru, sama-sama berhasil melakukan gerakan yang tepat, sama-sama melihat “kekonyolan”, atau sama-sama melihat kecerian dan kebahagiaan yang membuncahkan tawa bersama. Kebersamaan melalui gerak dan lagu relatif sederhana dan mudah diciptakan. Seusai pertemuan pun mereka masih punya kebersamaan yang tak bisa dibantah; minimal sama-sama pernah punya pengalaman kesatuan melagukan suatu lagu. Kebersamaan dalam keceriaan adalah sesuatu yang patut dikembangkan dalam membangun OMK, sebelum bergelut dalam urusan-urusan lain yang lebih kompleks.

    Arti penting terakhir adalah hiburan. Benar, hiburan, rekreasi, melepas kejenuhan, atau mencegah kengantukan, sampai mencari kesegaran baru. Ketika suasana pertemuaun sudah suntuk, baik juga dipertimbangkan mengembalikan kesegaran peserta dengan satu atau dua jogetan gerak dan lagu. Lebih baik lagi jika pilihan lagu disesuaikan dengan konteks permbicaran/ pertemuan. Memang lagu biasanya punya pesan tertentu, tapi ada juga lagu yang hanya untuk kegembiraan semata. Kalo dalam satu kesempatan yang ingin dicapai adalah hiburan dan keceriaan, lagu-lagu singkat (walau tanpa makna) dengan gerakan-gerakan “antik”  tentu lebih menghibur dan menyegarkan suasana.

    Nah, teman-teman, melihat arti penting suatu gerak dan lagu, maka pantaslah jika untuk mengegolkan semua kepentingan tersebut difasilitasi oleh animator. Mereka akan menganimasi peserta supaya bisa menguasai lagu dan gerak dengan tepat. Dan jangan ditanya lagi, animator yang baik, tentu harus menguasai gerakan dan lagunya dengan sempurna, tentu saja dengan cara  giat berlatih. Animator yang baik juga akan memastikan semua peserta selain bisa bernyanyi dan berjoget, juga tahu makna lagunya. Salah satu caranya adalah mengartikan  lagu-lagu yang berteks asing. 

    Maka mari kita berjoget dan berlagu; sambil memuji Tuhan, melatih keberanian, menyegarkan suasana, sekaligus membangun kebersamaan, ambooooi, elok nian, kawan.

    Palembang, 2 Agustus 2011
    Salam
    Agustinus Susanta.

    Muskada 3 In 1


    Muskada adalah Musyawarah Kaum Muda tingkat keuskupan agung Palembang. Digagas pertama kali oleh Komkep pada tahun 2007. Sebetulnya gagasan baru itu hanya pada siklus dan penamaannya saja. Sebelumnya pernah juga beberapa kali diadakan pertemuan para perwakilan kaum muda di tingkat keuskupan, walau waktu tak tentu dan agenda tak berkesinambungan. Konteks muskada terkait dengan karakter Keuskupan Agung Palembang yang terdiri dari 3 Dekanat yang sudah punya rutinitas acara.

    Tujuan muskada adalah sebagai forum resmi pengambilan keputusan teknis bagi agenda bersama dalam tingkat Keuskupan Agung Palembang. Muskada juga menjadi ajang koordinasi kegiatan kaum muda antar paroki, Dekanat dan keuskupan.
    Berikut agenda 2 kali muskada dalam Keuskupan Agung Palembang.
    Muskada 2007 beragenda:
    1.      Evaluasi pelaksanaan hasil lokakarya kaum muda pada tahun 2006.
    2.      Pelatihan merancang berbagai kegiatan pendampingan mudika (rekoleksi, retreat, latpim, dan outbound)
    3.      Merumuskan tempat, waktu, materi utama, dan konsep TAKM 2008.


    Muskada 2009 beragenda:
    1.      Evaluasi pelaksanaan TAKM 2008 di mata peserta yang tersebar di 26 paroki.
    2.      Koordinasi rencana kegiatan tiap paroki, dekanat, dan keuskupan khususnya dalam rangka pendidikan nilai.
    3.      Suksesi kepengurusan komkep Keuskupan Agung Palembang.


    Rencana agenda muskada 2011:
    1.      Merumuskan tempat, waktu, materi utama, dan konsep TAKM 2012.
    2.      evaluasi dan koordinasi kegiatan tiap paroki, Dekanat,dan keuskupan.
    3.      agenda lain yang kontekstual….

    Perlu diketahui, jarak terjauh antar paroki di Keuskupan Agung Palembang bisa ditempuh dalam perjalanan darat selama sehari semalam. Jarak Palembang sebagai pusat keuskupan ke Bengkulu sekitar …. Jarak ke Jambi sekitar… itu gambarannya. Bukan urusan praktis untuk mengumpulkan perwakilan 26 paroki di tingkat keuskupan. Ada energi, tenaga dan biaya yang lumayan yang perlu disediakan. Sayang jika pertemuan tidak menghasilkan sesuatu yang berkontribusi bagi perkembangan orang muda.

    Salah satu startegi romo Koto SCJ sebagai pastor moderator adalah kerasulan pendampingan pendamping kaum muda. Komkep lebih memfasilitasi pendampingan bagi para pendamping, dan hanya di tingkat keuskupan. Namun jika ada permindataan mendampingi ke daerah, baik latpim, retreat, maupun rekoleksi, tentu bersedia. Muskada hanya salah satu alat bantu untuk menyinergikan segala apa yang sudah dan akan terjadi terkait pendampingan kaum muda di Keuskupan Agung Palembang. Dan ingat, semua mesti di ACC oleh monsinyur. Khan Komkep membantu moninyur dalam hal pendampingan kaum muda. Komkep sendiri belum bisa mengklaim bahwa starategi muskada sudah efektif, namun setidaknya sampai saat ini muskada memberi kontribusi yang signifikan bagi sejumlah kegiatan, terutama di tingkat keuskupan. Semoga strategi yang dipilih efektif.

    Dalam konteks pendampingan para pendamping, bijaksana jika Kita melihat segala potensi dan kendala yang dihadapi. Setelah itu Kita rumuskan prinsip pengelolaannya, termasuk di dalamnya jalur-jalur pengambilan keputusan dan sosialisasinya. Hal ini penting Kita lakukan jika wilayah dampingan Kita tersebar jauh dengan kompleksitas keadaan yang tinggi. Strategi yang tepat dapat membantu proses pendampingan secara umum, namun sebaliknya, pilihan strategi (atau lebih paranya tak punya strategi) yang keliru dapat membuat para pendamping frustrasi. Jangan sampai para pendamping yang sebagian besar sukarelawan tersebut menghabiskan energi untuk hal-hal yang sebetulnya dapat diefektifkan melalui system. Biarkan sebagian energi para pendamping digunakan untuk memperkembangkan kaum muda melalui perjumpaan-perjumpaan dan kegiatan yang berkualitas.

    Bidang I vs Bidang III


    Ini kisah tentang perselisihan panitia dalam menyelenggarakan kegiatan pembinaan kaum muda, tepatnya kegiatan Temu Akbar Kaum Muda atau TAKM 2004. Panitia membagi diri menjadi 3 bidang. Bidang I ngurus materi dan acara, bidang II ngurus pendanaan dan operasional, dan bidang III yang dijabat tuan rumah ngurusi akomodasi, dan konsumsi. Bidang I dan II mayoritas dijabat teman-teman dari kota Palembang, sedangkan bidang III oleh teman-teman dari Paroki Baturaja dan Stasi Tegal Arum, tempat lokasi kegiatan. Semua panitia adalah sukarelawan dengan latar belakang macam-macam. Jarak Palembang dengan lokasi kegiatan sekitar 5 jam perjalanan darat, suatu yang membuat jalur komunikasi dan koordinasi agak sulit.

    Kegiatan ini termasuk besar karena masuk dalam siklus 4 tahunan kegiatan Keuskupan Agung Palembang, melibatkan lebih dari 700 peserta dengan lebih dari 100 panitia. Dana yang diperjuangkan juga besar, mencapai puluhan juta. Tiap panitia, segala bidang bekerja keras. Bidang I rapat secara marathon untuk menentukan dan mematangkan acara dan materi, termasuk siapa yang akan mengisinya. Bidang II tak kalah sibuk dengan segala proposal dan penggalian dana dan sponsorship. Bidang III secara prinsip menyiapkan lokasi, tempat menginap, tempat mandi, dan teknis masak memasak, bagi mereka, sudah beberapa kali umat di tegal arum mengalami TAKM. Satu hal yang masih ditunggu teman-teman dari bidang III adalah apa yang perlu dipersiapkan sesuai konsep acara? Mereka tak ingin persiapan teknis pendukung acara dilakukan secara mendadak karena lokasi yang di desa cukup menyulitkan jika perlu barang-barang yang aneh-aneh, perlu didatangkan dari kota.

    Pada suatu pertemuan rapat pleno di rumah retreat Giri Nugraha selama 2 hari di Palembang, semua bidang hadir. Bidang I memaparkan konsep acara yang baru 30% tercapai, tentu saja belum detail sampai apa saja yang perlu dipersiapkan. Celakanya, Bidang III ingin secepatnya mendapat keterangan apa saja yang diperlukan dan perlu dipersiapkan oleh mereka. Suasana memanas, Atnasus sebagai ketua umum mencoba memandang dari tempat yang lebih tinggi. Dia tahu persis bahwa bidang I sudah marathon hampir tiap setengah  minggu membahas materi kegiatan, apalagi tidak semua anggota bidang selevel pemikiran, ada dosen, karyawan, guru, mahasiswa, pelajar SMA,juga wiraswastawan. Kadang untuk memutuskan satu sesi acara selama 2 jam saja, diperlukan pembicaraan dan perdebatan selama 2 kali rapat. Bahwa ada pihak lain yang tidak mengikuti proses, yang menganggap perkemabangan bidang I lambat, bisa dipahami juga. Atnasus juga tahu, Bidang III perlu data rinci apa saja yang perlu dipersiapkan, tidak sekedar materinya ini itu.

    Makin malam suasana makin panas, tuntutan untuk segera merencanakan dan mendetailkan segala perlengkapan belum dapat terpenuhi semua. Bumbu-bumbu emosional bermunculan dari kedua belah bidang, sementara bidang II yang ngurus pendanaan tidak kalah pening mengatur strategi penggalian dana. Nada-nada tinggi mulai bermunculan setelah sekitar 4 jam pertemuan pleno, sampai akhirnya lewat tengah malam, pertemuan ditunda dilanjutkan esok hari.

    Seusai misa, segenap panitia sarapan bersama, lalu dilanjutkan rapat kembali. Suasana sudah agak mencair dan akhirnya rapat dapat mengambil keputusan terbaik untuk saat itu. Semua sadar, untuk tujuan bersama, tidak diperlukan lagi egoisme kelompok. Semua makin memahami kebutuhan dan proses masing-masing bidang dalam mempersiapkan TAKM 2004. 

    Bercermin dalam peristiwa itu, ketika member pembekalan bagi para panitia kegiatan-kegiatan kaum muda, Atnasus sering menceritakan pelajaran dari hal tersebut. Ketika semua pihak/ panitia merasa sudah bekerja keras, namun masih merasa “terhambat” atau tergantung pihak/ seksi lain, bisa jadi egoisme muncul dalam bentuk menyalahkan pihak lain. Ketika hanya menggunakan standar bidang masing-masing-masing tanpa mau memandang yang lain, pertemuan lebih banyak menghasilkan kecaman daripada sinergi.

    Selain kecakapan teknis dalam mengorganisir acara, bagi pendamping kaum muda ternyata diperlukan juga kerendahan hati dan kemampuan empati pada orang lain. Lucu, jika dalam mempersiapkan acara yang dimaksudkan membina orang muda, penyelenggaranya malah bertengkar dalam persiapannya, sontoloyo itu…. Lebih lucu lagi jika dalam menyiapkan sesuatu yang berskala “akbar” Kita tidak menyiapkan sistem dan jalur koordinasi yang efektif.

    Tim Pembinaan


    Ketika Atnasus kuliah di Unika Soegijapranata Semarang, dia tanpa sengaja tercebur dalam pengalaman pendampingan mahasiswa yang cukup mengesankan. Dimulai saat kakak kelasnya di Jurusan Arsitektur mencari kandidat untuk mengisi posisi tim pembinaan, kisah bergulir. 

    Apa itu tim pembinaan? Beberapa  tokoh kampus angkatan 1990 dan 1991, terutama dari Fakultas Psikologi Unika merancang sebuah sistem pembinaan rohani bagi para mahasiwa baru. Saat baru masuk kuliah pun Atnasus mengalami pembinaan tersebut, gado-gado antara latihan kepemimpinan dan retreat  selama 3 hari.  Para senior tadi membentuk sebuah tim yang melayani atau mendampingi kegiatan PRM atau Pembinaan Rohani Mahasiswa. Tim pembinaan adalah orang-orang terpilih dari tiap fakultas/ jurusan yang mengelola PRM tersebut. Hanya 2 orang dari tiap fakultas/ jurusan tiap tahun yang direkrut. Persaingan atau lebih tepatnya peluang untuk menjadi anggota tim tersebut sekitar 20-30% tergantung jumlah pelamar di tiap jurusan. Cukup banyak data dan isian yang  perlu diisi untuk dapat dianalisa oleh para anggota tim senior dalam rangka proses seleksi.

    Saat itu tahun 1995, Atnasus yang angkatan 93 bersama Rita dari angkatan 94 terpilih masuk menjadi tim pembinaan perwakilan Jurusan Arsitektur. Kalau tak keliru 12 orang saat itu yang satu angkatan terpilih dari 6 fakultas/ jurusan.  Anggota tim baru “hanya” bertugas menjadi tim operasional/ sekretariat saat pelaksanaan PRM, yang dalam kepanitiaan lebih dikenal dengan OC/ Organizing Committee. Perantim sekretariat adalah mengatur transportasi, akomodasi, perlengkapan, pendaftaran, dan hal-hal operasional lainnya. Yang boleh memberikan materi adalah anggota tim yang lebih senior, angkatan sebelumnya yang dikenal dengan nama tim materi. 

    Baru pada PRM tahun 1996, Atnasus dan teman-teman seangkatannya “naik jabatan” menjadi Tim Materi. Saat itu sudah dipilih pula teman-teman untuk menduduki tim sekretariat. Pola seperti itulah yang digulirkan, minimal sampai setahun kedepannya. Dalam tahun-tahun berikutnya, tampaknya proses tersebut tersendat karena sistem PRM mengalami modifikasi dari tingkat rektorat, ditambah komunikasi yang merenggang antar anggota tim yang senior. Maklum, sebagian sudah mulai skripsi, kerja, dan sudah lulus, lagipula sudah cukup banyak anggota tim baru yang bisa menangani PRM.

    Atnasus terkesan dengan 2 hal pada Tim Pembinaan, yakni pola rekrutmen dan pembelajaran materi di dalamnya. Tidak sembarang orang/ mahasiswa bisa menjadi anggota tim, mereka harus dipilih dan diseleksi dengan ketat. Setelah terpilih, anggota tim harus mengurus operasional pelaksanaan PRM yang pelaksanaannya memakan waktu hampir 2 minggu. Baru setelah itu bisa menjadi pembicara/ pemateri, di PRM berikutnya, sambil mengajari anggota tim yang baru. 

    Dalam proses penyusunan materi PRM, anggota  tim baru dilibatkan dalam tiap proses rapat materi. Bagi yang belum terbiasa berpikir secara mendalam dan detail, mau tak mau diajak berpikir dalam segala sisi ketika menentukan suatu materi PRM. Sering pertemuan dilakukan saat malam, pukul 7 malam adalah saat tercepat untuk mulai, kadang baru pukul 8 atau 9 malam dimulai, selesai paling cepat pukul 10. Berpikir, diskusi, debat, membaca, presentasi, mendengarkan, dan menulis adalah menu utama yang biasa disantap para anggota tim pembinaan. Selain ikut dalam pembahasan materi, dalam mengelola ratusan peserta juga diperlukan ketelitian dan kedetailan, mulai dari membagi gelombang pemberangkatan, mengajukan ijin kuliah, membagi kelompok diskusi, menyiapkan perlengkapan dan lain – lain. Tim Pembinaan Unika adalah awal keterlibatan yang menginspirasi Atnasus untuk terus bergelut dengan kegiatan orang muda Katolik. 

    Menjadi seorang pendamping atau pembina atau pelatih, atau apalah istilahnya, terutama dalam kegiatan rohani, kita dituntut bisa mempertanggungjawabkan segala sesuatu yang disampaikan terhadap peserta, baik dalam hal penyampaian materi, maupun skenario respon aksi reaksi. Walaupun apa yang disampaikan singkat dan terlihat sederhana, namun baik jika segala aspeknya sudah dipersiapkan dan bisa dipertanggungjawabkan. Diperlukan kerja keras sekaligus kerendahan hati untuk melakukan itu semua.