Tampilkan postingan dengan label TAKM 2004. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TAKM 2004. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 November 2015

Latihan ber-IMAJINASI, dalam program Training For Programmer


Terkait, TAKM (Temu Akbar Kaum Muda) Keuskupan Agung Palembang 2004,
BENAR atau SALAH kah, pernyataan berikut ini?
                                                                                                      
1.      Tema TAKM 2004 adalah “Menjadi OMK yang Dewasa dalam Iman dan Perbuatan”
2.      Kegiatan berformat pertandingan olahraga antar paroki, lomba seni antar paroki, dan berbagai pelatihan.
3.      Sistem pemukiman/ tinggal adalah berkemah; tiap paroki membawa dan mendirikan tenda sendiri disesuaikan dengan jumlah peserta.
4.      Urusan memasak & makan bagi peserta, panitia menggunakan konsep dapur umum yang dikelola oleh umat stasi Tegal Arum.
5.      Panitia memberi peserta kupon makan yang menunjukkan dimana mereka harus makan dan meletakkan piring kotornya.
6.      RTA/ “Road To Tegal Arum2004,”  berupa katekese/ pendalaman iman bagi peserta di paroki masing-masing.
7.      Struktur Kepanitiaan adalah: Ketua SC, Ketua OC, Sekretaris, Bendahara, serta seksi-seksi.
8.      Bertanggung jawab menyusun dan menyosialisasikan berkas-berkas perkembangan persiapan kegiatan mudika-mudika paroki secara umum dan pihak-pihak lain yang terkait, adalah salah satu tugas dan wewenang SEKSI HUMAS/ HUBUNGAN MASYARAKAT.
9.      Menetapkan dan menghubungi petugas-petugas misa pembukaan, misa penutupan dan renungan pada kegiatan, adalah salah satu tugas dan wewenang SEKSI HUMASBertanggung jawab dalam hal pengadaan dana yang diperoleh dengan menyelenggarakan suatu kegiatan dan atau meminta pada donatur. adalah salah satu tugas dan wewenang BENDAHARA
10.  Menyerahkan semua file baik dalam bentuk negatif film, kaset VHF, maupun CD kepada seksi kesekretariatan. adalah salah satu tugas dan wewenang SEKRETARIS
11.  Salah satu tujuan “Road To Tegal Arum 2004” adalah  Memilih/menyeleksi mudika berprestasi yang akan diundang dalam TAKM.
12.  “Mudika Berprestasi” merupakan peserta khusus yang dipilih/ditetapkan oleh Komkep. Mereka diundang sebagai peserta karena prestasinya. Peserta berkategori ini tidak mengurangi jumlah kuota mudika paroki/dekenat asal peserta.
13.  Biaya dan upaya perjalanan ke, dan dari lokasi kegiatan, ditanggung oleh dekanat masing-masing.
14.  Jumlah peserta TAKM 2004 tidak dibatasi, karena ini adalah pertemuan akbar yang salah satunya bertujuan mengumpulkan OMK sebanyak mungkin.
15.  Ada 3 kegiatan besar yang dilakukan sebelum menggelar TAKM 2004, yaitu: Temu Pendamping dan Tokoh Mudika KAPal, Rapat Persiapan Temu Akbar Kaum Muda, dan Road To Tegal Arum.
16.  Salah satu materi TAKM adalah ceramah guna membangkitkan motivasi kaum muda untuk berkembang, yang disampaikan oleh Uskup Agung Palembang.
17.  AJANG PELATIHAN merupakan suatu “kelas” atau “stand” yang menyajikan suatu pelatihan atau pengetahuan sehingga dapat diikuti oleh orang lain.
18.  Salah satu jenis pelatihan yang diselenggarakan adalah pelatihan menulis/ jurnalistik.
19.  Theme song TAKM 2004 ditentukan melalui Lomba Cipta Lagu
20.  Logo TAKM 2004 dibuat oleh tim khusus yang ditunjuk panitia
21.  Lomba cipta lagu merupakan ajang kreasi mudika untuk menyalurkan kepekaan mereka terhadap musik. Lagu pemenang akan menjadi “theme song” tahun pemuda 2004.
22.  Acara Keakraban dalam Kebersamaan merupakan kegiatan yang bertujuan mengakrabkan berbagai latar belakang mudika untuk dapat bersama-sama menghayati tema tahun pemuda. Perwujudannya adalah kegiatan Jalan Salib dan Misa Harian.
23.  Program KADERISASI dan JARINGAN adalah forum khusus yang diperuntukkan bagi beberapa perwakilan mudika dari paroki-paroki untuk lebih memperkuat jaringan, khususnya pada tingkatan keuskupan. Saat TAKM 2004, kader-kader terpilih dipercaya menjadi panitia.
24.  Belum semua konsep TAKM terlaksana dengan baik, hal itu salah satunya karena panitia hanya mengandalkan para ketua/ perwakilan OMK dalam penyampaian konsep & kegiatan, dan kurang dalam hal sosialisasi langsung ke paroki/ dekanat.
25.  30 % peserta TAKM menyerahkan formulir langsung di lokasi kegiatan, hal tersebut sangat merepotkan panitia karena harus membagi mereka dalam berbagai kelompok kegiatan lagi, dan itu menyita waktu.
26.  Perkemahan TAKM 2004 dibagi dalam 3 area, sesuai dengan jumlah dekanat yang ada di keuskupan.
27.  Acara outbound dilakukan dengan 2 sistem yang berbeda karena peserta terbagi dalam 2 camp dengan jadwal acara (ada) yang beda.
28.  Walapun ada 2 camp perkemahan, tetapi acara outbound dilakukan hanya 1 kali saja secara bersama-sama.
29.    Donasi untuk acara TAKM bisa berupa natura/ bahan-bahan makanan, misalnya beras, mi, minyak goring, air minum kemasan, dan sebagainya.

30.    Renstra (Rencana Strategis) Dekanat diadakan di akhir TAKM 2004 karena dalam 3 hari pelaksanaan kegiatan, banyak terjadi konflik antar paroki / dekanat. Renstra tersebut untuk ajang rekonsiliasi.

====== Dokumen ini adalah bocoran sebagian latihan Training for Programmer 
Keuskupan Agung Palembang
untuk menjawabnya, bisa ditelaah dari dokumen  TAKM 2004 =====





Sabtu, 28 Februari 2015

Konsep Acara TAKM 2004 _ 4/9


Konsep Acara

Gimana konsepnya? Temuan dari Komkep atau panitia?
Secara prinsip ide dari komisi yang dilaksanakan oleh panitia, toh semua anggota Komkep terlibat pada kepanitiaan. Begini ceritanya, eh konsepnya. Berdasarkan pengalaman TAKM sebelumnya, peserta bisa tembus di atas 800 orang, demi alasan teknis maka kita mencoba membatasi peserta dalam jumlah yang masih bisa dikelola secara baik.
Lho kok dibatasi, kasihan yang tidak bisa ikut, dong. Diskriminasi itu namanya.
Eh…. kok langsung sewot gitu Kamu , Lai.
Iya dong. Itu khan acara akbar 4 tahun sekali, puncak acara kaum muda di keuskupan. Masa untuk ikut saja dibatasi, banyak yang kecewa dong.
Boleh-boleh saja ada yang berpendapat begitu. Namun ingat, Kita membatasi 1000 orang peserta, seribu itu banyak juga, Lai. Apalagi ini di Sumatera bagian selatan, bukan di Jawa yang populasinya jauh lebih banyak. Kamu sebagai malaikat tentu lebih tahu, khan.
Hmmmm… lalu?
Berprinsip keadilan, kami adakan penjatahan dengan kuota peserta.
Kuota?
Ya, kuota peserta. Begini, lebih jelasnya kamu lihat di Proposal TAKM 2004 seperti pada surat edaran yang dulu kami bagikan pada seluruh pastor paroki, pendamping OMK dan ketua mudikanya. Isi surat itu tentang persiapan kegiatan TAKM 2004, khususnya program Road To Tegal Arum.
Malaikat lalu menerima salinan surat edaran seperti yang Atnasus maksud, setelah dibaca disimpannya salinan itu di sayapnya, sreep sreep.
Omong-omong kapan dokumen tersebut diedarkan?
Bulan November 2003, dalam acara Temu Pendamping dan Tokoh Mudika KAPal dokumen tersebut diedarkan. Dokumen itu disatukan dalam buku pendampingan kaum muda.
Wow, ada buku panduannya segala.
Ada, saat itu kami buat dua, 1 buku panduan tentang pendampingan kaum muda secara umum yang secara resmi diedarkan bulan November 2003 itu. Saat TAKM juga ada buku petunjuk pelaksanaan.
Seusai urusan TAKM, saya juga akan tanya tentang buku panduan itu, menarik, Nas.
Boleh, nanti Kita ngobrol juga tentang pola pendampingan Komkep KAPal, terutama sejak tahun 2000 sampai sekarang.
Boleh tahu inti-intinya, Nas?
Ada temu pendamping, buku panduan, TAKM tiap 4 tahun, pelatihan-pelatihan, pendampingan pendamping, kursus outbound, Muskada 2007 dan Muskada 2009, dan lain-lain.
Itu dilakukan di tiap paroki atau di mana? Lalu ada Muskada, apa itu?
Pola pendampingan yang saya sebut tadi adalah kegiatan di tingkat keuskupan, kalau menyebut yang di paroki lebih banyak dan beragam, Lai. Muskada itu musyawarah kaum muda. Nantilah pada saatnya saya ceritakan. Kalau ngobrol sekarang, tentang TAKM 2004 saja belum selesai, belum cerita tentang TAKM 2008. Masih panjang, Lai…
Iya benar Kau, kawan. Tadi kita ngobrol sampai konsep, dalam mewujudkan gagasan/ konsep yang telah ditetapkan setahun sebelumnya maka diadakanlah RTA.
Ya, benar.
Trus bentuk kegiatannya Saudara apakah sesuai konsep tersebut?
Gini, Lai. Saya cuplik saja dari teks proposal acara tersebut yach. Kalo mau tahu lengkapnya bisa baca di Surat Edaran Road to Tegal Arum
Proposal tersebut diluncurkan 28 Juni 2004, sekitar 4 bulan sebelum pelaksanaan. Proposal digunakan sebagai pemberitahuan dan undangan resmi ke tiap paroki, serta yang penting juga untuk penggalangan dana.
Atnasus lalu memberikan salinan proposal yang setelah dibaca malaikat, disimpannya di salah satu sayapnya. Namun tak lama malaikat seperti tersengat sesuatu sehingga dia secepat kilat mengeluarkan 2 dokumen yang sudah disimpan di sayapnya lalu membandingkannya.
Eit, tunggu dulu, Nas. Ada yang nggak sinkron, jumlah kuota di surat RTA dan proposal, kok nggak sama?
 Itulah, Lai. Memang ada sedikit perbedaan jumlah, namun secara prinsip kuota tetap sama. Namanya ada perkembangan, maka kita lalu membuat beberapa penyesuaian antara rencana RTA dan yang ditulis di proposal.
Ooooo, gitu, toh, Nas.
Iya, gitu. Lai.

---------- b e r s a m b u n g  ke bagian 5 ---------

Malaikat Penasaran di TAKM 2004 _ 1/9


Malaikat Penasaran

Wushhhh.... Seorang malaikat sedang melayang terbang melakukan patroli rutin pada tanggal 14–17 Oktober 2004. Jatah dia saat itu adalah daerah jalur Baturaja–Martapura, Sumatera Selatan. Sampailah patrolinya di suatu lokasi di tengah perkebunan karet di Tegal Arum, dia melihat puluhan tenda dan kerumunan besar anak muda sedang melakukan sesuatu. Penasaran, semalaikat itu turun dan mengamati, “Apa pula yang dilakukan orang-orang muda yang mencapai ratusan jumlahnya itu di tengah kebun?” pikir malaikat heran. 

Melesatlah dia turun dari angkasa mendekati lokasi yang mencurigakan itu. Makin jelas sekarang, tampak tenda-tenda perkemahan beraneka warna, lapangan, panggung, gereja, aula dan tentu saja orang-orang yang lalu lalang diantaranya. Terlihat satu baliho besar berukuran 3,66 × 4,88 meter di tempat yang paling mencolok yaitu di samping panggung, dekat pintu utama. Dia melihat tulisan “TEMU AKBAR KAUM MUDA Keuskupan Agung Palembang. Tegal Arum, 14–17 Oktober 2004” bagian tengah ada gambar semacam orang bangun tidur berwarna hijau berlatar biru muda, lucu. Lalu di bagian bawah ada tulisan “Hai Kaum Muda, BangKitlah, Katakan Damai bagi Dunia!”


Di dekat baliho ada sederetan tenda yang tampaknya digunakan untuk pameran. Bermacam karya dipamerkan di situ yaitu kaos, topeng, komputer, jamu dan kerajinan tangan. Berseberangan dengan baliho ada deretan tenda yang berisi ibu-ibu sedang memasak puluhan jumlahnya. Asap mengepul dari beberapa tempat, diiringi bau sedap bumbu yang direbus atau digoreng, menggugah selera. Sebuah tenda berpanggung ada di tempat sentral menghadap lapangan dan tenda-tenda kemah.

Mendirikan tenda
Serunya bangun tenda bareng-bareng
“Bah, apa pula ini?” malaikat penasaran terhadap lokasi ini. Saat patroli seminggu yang lalu suasana di lokasi ini jauh berbeda, lengang sepi tanpa aktivitas mencolok selain kehidupan warga kampung. Namun malaikat tidak punya banyak waktu untuk menyelidik, dia musti melanjutkan patroli, disimpannya banyak pertanyaan untuk diselidiki kemudian. Dia lalu melesat lagi terbang melanjutkan patroli. Setahun, dua tahun, tiga tahun kemudian, malaikat yang sama berpatroli di atas lokasi yang sama, setengah berharap menemui hal yang sama sehingga bisa menuntaskan rasa penasarannya. Berselang 3 tahun hasil nihil, di lokasi tersebut lengang, tanpa perubahan.

Tahun berikutnya tepatnya pada 3–6 Juli Tahun 2008 sang malaikat kembali mendapat jatah berpatroli di rute yang sama, kali ini TOPnya (tahun orientasi pengawasan) yang terakhir di Sumatera bagian Selatan. Dia tak banyak berharap menemukan perubahan seperti 4 tahun lalu, namun apa yang terjadi rupanya dapat menggugah rasa penasarannya. Suasana di tempat itu ramai, seperti 4 tahun lalu. Dari angkasa terlihat puluhan tenda kecil, bahkan kini ada 4 tenda tentara besar, mirip barak didirikan. Segera melaikat melesat turun dan berputar-putar di lokasi yang penuh dengan ratusan anak muda sedang hilir mudik, sebagian sedang makan. “Oooo pantas, sekarang jam makan siang” pikir malaikat maklum. 

Belum sempat dia menyamperi salah satu dari ratusan anak muda untuk bertanya, tiba-tiba tanda aura di kepalanya berputar, tanda ada hal yang perlu segera mendapat perhatian di tempat lain. “Wah…. Ada panggilan darurat, siapa gerangan yang perlu ditolong kali ini? Jauh dari tempat ini rupanya.” Makin cepat aura berputar, berarti sumber masalah makin dekat, namun kini perputaran di sekitar kepalanya pelan, berarti sumber yang perlu ditolong masih jauh. “Moga-moga nanti aku masih sempat ke sini lagi, penasaran deh ada apa sih ini, di desa tengah kebun karet ada keramaian semacam ini. Pake musik-musik segala.” Ada-ada saja orang muda jaman sekarang. Dengan rasa penasaran malaikat melesat ke angkasa mencari sumber bahaya yang perlu diselesaikannya.



Pertemuan dengan Atnasus

Tahun 2009 malaikat pindah tugas ke daerah Somalia, mengawasi manusia dan mencatat tingkah lakunya. Korekan informasi dari sesama malaikat kolega yang mengawasi Sumbagsel membawa hasil negatif. Tak ada kegiatan yang menghebohkan di Tegal Arum. Namun teman sang malaikat itu memberi sebuah nama yang bisa dikontak untuk memuaskan rasa penasaran koleganya itu. Pada satu kesempatan di akhir tahun 2009, malaikat penasaran itu ijin pada bosnya untuk mencari nama yang sudah digenggamnya. Ijin turun dengan catatan, sang malaikat harus mencatat apapun hasilnya untuk bisa disebarkan pada umat manusia, siapa tahu memberi inspirasi. Inspirasi tentang hal-hal yang baik secara tidak langsung akan mendukung manusia dalam berhidup dengan hikmat dan sesuai kemauan penciptanya.
Singkat cerita ketemulah malaikat dengan dengan “Atnasus” seorang manusia yang mudah-mudahan dapat menjawab kepenasarannya selama ini. Walau bertugas di Somalia, malaikat ternyata masih menyimpan penasaran. Beberapa kali malaikat bertemu Atnasus untuk menghabiskan rasa penasarannya pada kegiatan di Tegal Arum itu. Semua hasil perbincangan dicatatnya karena dia harus melaporkan pada bos malaikat.
Atnasus, hai, apa kabar?
Sehat kabarku, siapa Anda?
Saya malaikat.
Ada gerangan apa, tumben menampakkan diri. Ajalku sudah dekat ya…..
Hus sembarangan, itu urusan penciptamu, bukan kewenanganku.
He he he…. atau tunggu tahun 2012 yha.
Eh… jangan pancing-pancing saya, yha… Nas. Kamu kupanggil Nas saja yach….
Lalu Kamu kupanggil apa, malaikat?

Terserah
Baiklah Terserah, ada apa?
Hus, maksud saya terserah, Kamu boleh panggil aku apa saja, terserah… itu maksudnya.
Oooo… ngobrol dong, Lai.
Lai… apa pula itu, Lai…
Ya, aku panggil Kamu Lai, Kamu khan malaikat, bagus kalau dipanggil Lai….
Eh, keren juga ya….daripada dulu ada yang manggil saya Ikat… terdengar norak.
He he he…

Hai Cah Enom, Poda Tangio, Omongne Damai Kanggo nDonyo!
ekspresi kreativitas peserta TAKM 2004, Sip.
---------- b e r s a m b u n g  ke bagian 2----------

737 Peserta TAKM 2004 _ 2/9


Apa itu TAKM?

Gini, Nas, beberapa tahun lalu dan tahun kemarin yaitu 2004 dan 2008 aku terbang di atas Tegal Arum, kulihat ada keributan yang melibatkan ratusan orang muda yang ada di tenda-tenda, ada apa sih?

Oooo itu Temu Akbar Kaum Muda Keuskupan Palembang.
Bisa diceritakan apa itu? Yang 2004 duluan deh.
Kegiatan ini adalah pertemuan seluruh kaum muda di Wilayah KAPal (Keuskupan Agung Palembang), diadakan 4 tahun sekali.
Siapa penggagas kegiatan ini dan apa tujuannya?
Kegiatan ini entah oleh siapa digagas, namun sejak tahun 1980 sudah ada pertemuan semacam ini yang melibatkan kaum muda dari seluruh keuskupan. Mula-mula sekelompok kaum muda melakukan kegiatan bersama, terutama olahraga dan bakti sosial, lalu 4 tahun kemudian berkembang dalam jumlah peserta, namun formatnya ditambah menjadi olahraga, bakti sosial dan pentas seni, pesertanya pun makin banyak. Empat tahun kemudian peserta makin banyak dan ada penambahan pemberian materi. Sampai saat tahun 2004 kegiatan ini berformat pemberian materi, pentas bakat dan olahraga.
Berapa peserta yang ikut dalam kegiatan ini?
Tercatat pada sekretariat 735 peserta yang terdiri dari 25 paroki, ada 1 paroki yang belum mengirim yaitu dari Paroki Allah Maha Murah Pasang Surut.

Tampilan Salah Satu Kontingen Paroki

Suasana Tenda Utama dalam Sebuah Sesi
Mengapa ada yang tertinggal?
Mungkin karena keterbatasan waktu dan transportasi. Mereka mesti menggunakan speed boat sepanjang Sungai Musi dari Pasang Surut ke Palembang selama kurang lebih 4 jam. Padahal kami sudah mengirimkan formulir jauh hari dan pengurus mudika pun sudah dipastikan mengtahui kegiatan ini. Tapi saya menduga bisa jadi belum ada peserta yang memadahi untuk dikirim ke acara ini.

Dimana acara ini diadakan?
Sejak awal, kegiatan 4 tahunan ini diadakan di Stasi Tegal Arum, Paroki Baturaja. Di Tegal Arum ada sebuah kampung transmigrasi yang mayoritas penduduknya beragama Katolik. Di situ ada lapangan, kebun, kolam, gereja, dan balai pertemuan. Oh ya dekat pula dengan komplek gua maria. Ke depan, tempat itu diproyeksikan menjadi salah satu Youth Centre untuk KAPal. Lokasi tersebut dapat ditempuh dengan perjalanan darat selama sekitar 5 jam dari Palembang, sekitar 10 jam dari Jambi, dan 8 jam dari Bengkulu.
Mengapa disebutkan patokan dari 3 kota tersebut?
Keuskupan Palembang berada di 3 provinsi, Sumatera Selatan yang beribukota di Palembang, Jambi yang beribukota di Kota Jambi dan Bengkulu yang beribukota di Kota Bengkulu. Jadi dapat kita bayangkan cakupan yang sangat luas. Menuju ke Tegal Arum dari ibu kota provinsi saja sudah lama, apalagi dari stasi atau paroki yang lebih pelosok.
Seberapa cukup tempat di Tegal Arum dapat menampung ratusan peserta? Bagaimana dengan tempat tinggal dan sarana MCK?
Kami tinggal menggunakan tenda, terutama peserta. Tiap paroki membawa dan mendirikan tenda sesuai jumlah peserta yang dikirimnya. Sarana MCK untuk kegiatan tahun ini, syukur pada Tuhan, baru saja dirampungkan 2 unit sarana MCK untuk putra dan putri berkapasitas @ 40 orang sekali guna. Syukur pula sumber air yang berdebit cukup besar sudah ditemukan sebulan sebelum acara di mulai, sehingga kita tidak kekurangan air. Daerah Tegal Arum sebenarnya dikenal dengan daerah yang pelit air, alias susah mencari air dalam jumlah besar. Selain sarana MCK permanen, panitia juga membuat WC darurat sekitar 40 buah. Terbuat dari jumbleng dan karung plati, eksotis deh.
Panitia tinggal dimana?
Ada yang tinggal bersama-sama di bangunan TK yang dijadikan sekretariat sekaligus barak penginapan. Ada yang di rumah peristirahatan, ada pula yang tidur di aula gereja sedangkan untuk pembicara tidur di tempat susteran. Sebagian besar panitia adalah mudika dan pendidik lokal yang tentu aja ketika malam tinggal di rumahnya. Rumah mereka toh dekat dengan lokasi perkemahan.
Wah seru juga yah.
Ya seru, Lai. Suasana semarak, puluhan tenda beraneka warna dan besarnya berdiri di tiap sudut  lapangan. Ada yang dihias dengan bendera, gapura, patung, panggung kecil, termasuk jemuran. Orang-orang muda berseliwreran kemari kesana ketika acara bebas. Ada yang ngobrol, diskusi, berdoa dan macam-macam. Bayangkan dari 25 lokasi yang berbeda, tumplek dalam satu lokasi. Ada yang cepat akrab dengan kontingen lain, ada yang masih malu-malu, ada yang maunya dengan teman satu paroki saja. Itulah cermin kaum muda kita, Lai.
Ini soal yang serius, Nas. Bagaimana mereka semua diberi makan? Rasaku tak mungkin seperti Yesus menggandakan roti dan ikan untuk mereka.
Justru karena kami bukan Yesus, maka kami bekerja keras memberi mereka makan. Lai, ada 750-an peserta, panitia 150-an, jadi sekitar 900 orang yang perlu makan 3 kali sehari, untuk acara 3 hari jadi 9 kali total 900 kali 9 yaitu 8100 porsi. Belum termasuk snack 2 kali sehari. Cara kali ini juga sama dengan acara sebelumnya. Panitia menyiapkan seksi konsumsi yang bertugas memasak semua makanan tersebut.
Capek deh seksi konsumsi.
Kami dibantu penduduk setempat, terutama ibu dan bapaknya. Mereka bergiliran memasak atas nama stasi dan paroki. Kami percayakan urusan memasak pada panitia di Tegal Arum, mulai dari peralatan, pembelian bahan mentah dan petugasnya. Urusan menu, mereka mengkonsultasikan dulu dengan panitia besar. Memang petugas memasak bekerja keras. Mulai dari dini hari sudah meracik sayur dan lauk untuk arapan dan makan siang. Pagi sampai siang menyiapkan untuk makan malam dan untuk menu keesokan harinya.
Dimana acara masak-memasak itu? Saya bayangkan pasti membutuhkan tempat yang cukup luas.
Kami mendirikan tenda, kalau tak keliru sekitar 16 tenda, yaitu 8 untuk memasak dan 8 untuk menghidangkan. Kami buat berderet. Kebetulan di seberang lapangan perkemahan ada tanah lapang memanjang di tepi kebun karet. Di situlah kami dirikan tenda konsumsi. Bagian sebelah kiri untuk memasak lalu setelah masak dipindah ke kanan. Peserta antri dan mengambil makanan di sana. Kami menggunakan kayu bakar karena disana banyak sekali kayu bakar, disamping itu jauh lebih hemat daripada menggunakan minyak tanah.

Serunya memasak di dapur umum
Suasana di Salah Satu Sudut Dapur Umum
Bagaimana menyediakan piring , gelas dan sendok untuk manusia sebanyak itu?
Tiap peserta kami wajibkan membawa piring, gelas dan sendok. Mereka akan gunakan sendiri, termasuk urusan mencucinya. Sedangkan peralatan memasak disediakan oleh panitia. Peralatan bagi panitia sudah disiapkan oleh panitia, namun ada juga panitia yang membawa peralatan sendiri.
Bagaimana mengatur ratusan orang saat makan sehingga efektif.
Kami memberi peserta kupon makan yang menunjukkan dimana mereka harus mengambil makan dan minum. Seluruh peserta kami bagi rata dalam 6 meja saji. Waktu makan sekitar 2 jam, termasuk untuk mencuci, istirahat serta acara bebas lainnya.

Mhhh mmm menarik juga. Sekarang Kita ngobrol hal lainnya, Nas. Masih banyak yang ingin saya tanyakan. Mengenai yang teknis-teknis dari pertendaan, keamanan, listrik, dan lain-lain. Lalu belum mengenai kegiatan-kegiatannya, serta pasti menarik juga bagaimana proses menyiapkan itu semua. Saya lompat ke konsep acara, ya Nas.
Silahkan, Lai, mau tanya apa saja. Acara tersebut sudah berlangsung 5 tahun lalu, ya sekitar 6 tahun lebih jika dihitung dari persiapannya jadi  saya jawab semampu dan seingat saya.

---------- b e r s a m b u n g ke bagian 3---------