Jumat, 27 Februari 2015

Kemelesetan 25% TAKM 2004 _ 5/9


Eksekusi TAKM

Wow, konsep yang luar biasa, rapi dan tampak ideal. Namun itu khan yang direncanakan dan disosialisasikan. Apakah yang terjadi di pelaksanaan juga begitu rupa?
Perlu diketahui, kami saat itu penuh idealisme dan ide-ide yang berseliweran. Untuk acara ini banyak maunya maka konsep kami buat semaksimal mungkin. Pelaksanaan di lapangan secara garis besar sesuai konsep awal.
Berapa persen kesesuaiannya, Nas?
Kira-kira 75%, Lai.


6 Biarawati dari puluhan biarawati/ biarawan yang hadir pada TAKM 2004

Nah. Saya ingin lebih banyak cerita yang 25% belum sesuai itu, Nas. Kata manusia-manusia di bumi itu kita bisa belajar dari kesalahan. Boleh dong ceritakan kemelesetan konsep dengan pelaksanaan.
Betul, kita bisa belajar dari kesalahan, saya lebih menyebutnya kebelumefektifan. Kami juga perlahan menyadari kekurangan itu, melalui refleksi dan pengadaan kegiatan-kegiatan lain yang serupa. Beberapa hal yang kurang kami cermati dalam sosialisasi dan implementasi konsep antara lain:
Jumlah paroki yang kami kelola ada 26 paroki yang jaraknya bervariasi dan tersebar di 3 provinsi. Tingkat penangkapan ketua/pengurus mudika tidak semua sama. Tentu ada perbedaan ketika suatu konsep dicerna oleh orang-orang di kota dibandingkan teman-teman yang sehari-hari bertani.

Mestinya kami melakukan sosialisasi dengan lebih getol, kalau perlu terjun langsung ke tiap paroki. Saat itu kita hanya mengandalkan ketua/pengurus mudika, kadang-kadang dibantu pastor parokinya. Juga pengurus mudika dekanat. Harapannya sih informasi dari tingkat keuskupan secara berjenjang diteruskan sampai ke stasi. Namun tidak semua berjalan. Ada mudika yang sangat bergairah dan lancar secara administratif dan komunikasi, ada mudika yang untuk ngumpulkan anggotanya susah.

Ada yang pengurusnya vakum padahal ada anggotanya. Macam-macam ragamnya. Kendala luasnya wilayah teritorial sedikit banyak juga memperlama proses. Internet belum populer saat itu, apalagi masuk ke pelosok desa. Sebagus apapun konsep, kalau di tingkat pelaksana kurang sumber daya, pasti ada saja yang belum sesuai.
Bisa beri contoh konkrit, Nas.
Gagasan pertandingan olahraga tingkat rayon/dekanat tidak semua terlaksana, padahal paroki yang menang akan mendapat tambahan jatah kuota peserta. Beberapa wilayah melaksanakan namun ada yang tidak sempat menjalankan.
Lalu kuota untuk pemenangnya bagaimana?
Ya hangus.
Ada yang lain?
Ide pertandingan sepak bola atas nama dekanat. Ada dekanat yang sebelum berangkat sudah mempunyai tim sepak bola dan bola voli yang diambil dari beberapa paroki. Artinya dekanat tersebut sudah melakukan pertemuan pendahuluan, itu bagus. Namun masih ada dekanat yang membentuk tim ketika pelaksanaan TAKM.
Contoh berikutnya
Lomba paduan suara di semua dekanat tidak jalan. Juga mudika berprestasi dan mudika tuna juga  tidak berjalan.
Apa itu mudika tuna, Nas?
Mudika yang fisiknya nggak lengkap, Lai, misalnya Tunarungu, tunawicara, atau tunanetra.
Ooooo... Kalau kuota tingkat dekanat, khan diatur oleh pengurus mudika dekanat, tahu bagaimana membaginya?
Tampaknya 3 dekanat membagi rata sesuai persentase jumlah mudika tiap paroki. Ada paroki di satu dekanat yang jumlah mudikanya lebih banyak, standarnya khan kirim 20. Paroki itu lalu diberi jatah dari dekanat lebih banyak. Bahkan ada paroki yang tidak memenuhi 20 orang peserta, jatahnya diberikan pada paroki lain, nggak masalah. Saya lihat tiap dekanat punya kebijaksanaan yang bijaksana dalam hal ini, sudah baik itu.
Hanya kegiatan untuk memperebutkan kuota standar yang tidak semua bisa jalan, ya. Omong-omong, sebenarnya siapa sih yang menetapkan berbagai jenis kegiatan di paroki/dekanat itu? Komkep, panitia, atau justru dari paroki sendiri?
Begini, Lai, untuk menjelaskan hal itu, saya sampaikan pertimbangan awalnya. TAKM 2004 digagas sebagai pertemuan mudika yang mempunyai prestasi.
Menjadi juara maksudnya?
Tidak sesempit itu. Bahkan bahwa anggota mudika yang rajin pertemuan pun bagi kita sudah merupakan prestasi. Apalagi yang mempunyai nilai lebih. Hal itu patut distimulus dan diapresiasi. Maka kita dari komisi dan panitia beride untuk merekayasa kegiatan yang secara teori memungkinkan dilakukan di tiap dekanat. Paduan suara, sepak bola dan bola voli menurut kami saat itu memungkinkan dilakukan. Kelompok mudika yang menang dapat tambahan jatah jadi peserta TAKM.
Buktinya?
Ternyata tidak semua berjalan lancar, itu menjadi pengalaman bagi kami. Apa yang secara teori bisa, tanpa disemangati dan dipantau, akan bisa layu.
Selain beberapa yang belum tercapai, tentu ada konsep acara yang berjalan sesuai skenario dong, apa saja itu, Nas?
Konsep stand tenda prestasi berjalan cukup bagus ditandai dengan beberapa buah stand yang menampilkan:
  -  kerajinan tangan
  -  keahlian video editing
  -  tanaman apotek hidup dan jamu
  -  rumah retreat
  -  sablon dan topeng
  -  1 konggregasi Suster St. Fransiskus

Peserta pameran melihat demonstrasi pembuatan sablon pada salah satu stand pameran.

Ada lagi?
Ada dong, dan 2 hal ini yang sangat membantu panitia. Lomba logo dan lagu tema kegiatan berjalan dengan lancar, bahkan untuk lomba lagu bisa dipentaskan dalam kegiatan Road to Tegal Arum.
Bisa diceritakan lebih detail?
Kebetulan tahun 2004 bagi KAPal adalah tahun “Pemuda, Remaja dan Anak-Anak”, rangkaian dari sinode keuskupan. Kegiatan TAKM menjadi puncak perayaan tahun tersebut. Alangkah yahud jika ada tema, logo dan lagu yang melekat padanya. Dalam upaya melibatkan lebih banyak pihak, terutama mudika, terhadap antusiasme TAKM maka kami rekayasalah lomba logo dan tema serta lomba lagu. Bagi pemenang, parokinya mendapat tambahan kuota peserta, lumayan khan.
Banyak yang ikut?
Kalau tak keliru ada 5 lagu dan 9 usulan logo.
Itulah, Lai, salah satu kelemahan kami, tidak semua terdokumentasi dengan rapi. Begitu banyak rapat, pertemuan, berkas, termasuk pengembangan dan perubahannya. Kadang juga satu hal ditangani oleh orang yang berbeda. Agak kacau memang.
Ada program lain yang terlaksana?
Ada, lomba menulis, namun pesertanya hanya tiga, jadi semua jadi juara. Itu tadi, yang tadi saya bilang, kurang sosialisasi dan supervisi.
Wah, baru ngobrolin tentang konsep dan persiapan saja sudah panjang, apalagi saat pelaksanaan, pasti tambah seru.
Iya, apalagi kami sempat dicap tidak profesional oleh banyak peserta karena hal-hal teknis yang kacau. Ha ha ha…. Lucu kini kalau saya ingat itu, Lai.
Eh jangan memancing saya bertanya hal pelaksanaan yah, belum saatnya. Sekarang saya ingin tahu, bagaimana dengan segala ide dan ketentuan yang rumit tadi kalian sosialisasikan.
Berarti kamu perlu tahu jadwalnya, Lai. Begini Rapat Persiapan, 29–31 Agustus 2003 di Tegal Arum itu terjadi antara Komisi Kepemudaan dengan Dewan Paroki Baturaja dan Dewan Stasi Tegal Arum untuk survei dan memastikan lokasi pelaksanaan. Tanggal belum muncul, panitia juga belum dibentuk.
Setelah pertemuan itu baru dibentuk panitia? Yang dari 2 lokasi itu?
Betul, lalu ada kegiatan Temu Pendamping dan tokoh Mudika KAPal, 28–30 November 2003 di Podomoro. Itu adalah kegiatan Komisi Kepemudaan dalam rangka koordinasi perkembangan kegiatan kaum muda secara umum. Separuh agendanya memang untuk menyosialisasikan panitia TAKM, ketentuan kuota, lomba-lomba, materi dasar, dan hal-hal teknis yang sudah bisa diputuskan saat itu.
Hmmm berarti sekitar 11 bulan sebelum pelaksanaan. Cukup bagus juga, tidak terburu-buru.

 

---------- b e r s a m b u n g   ke bagian 6--------

Tidak ada komentar:

Posting Komentar