Sabtu, 28 Februari 2015

737 Peserta TAKM 2004 _ 2/9


Apa itu TAKM?

Gini, Nas, beberapa tahun lalu dan tahun kemarin yaitu 2004 dan 2008 aku terbang di atas Tegal Arum, kulihat ada keributan yang melibatkan ratusan orang muda yang ada di tenda-tenda, ada apa sih?

Oooo itu Temu Akbar Kaum Muda Keuskupan Palembang.
Bisa diceritakan apa itu? Yang 2004 duluan deh.
Kegiatan ini adalah pertemuan seluruh kaum muda di Wilayah KAPal (Keuskupan Agung Palembang), diadakan 4 tahun sekali.
Siapa penggagas kegiatan ini dan apa tujuannya?
Kegiatan ini entah oleh siapa digagas, namun sejak tahun 1980 sudah ada pertemuan semacam ini yang melibatkan kaum muda dari seluruh keuskupan. Mula-mula sekelompok kaum muda melakukan kegiatan bersama, terutama olahraga dan bakti sosial, lalu 4 tahun kemudian berkembang dalam jumlah peserta, namun formatnya ditambah menjadi olahraga, bakti sosial dan pentas seni, pesertanya pun makin banyak. Empat tahun kemudian peserta makin banyak dan ada penambahan pemberian materi. Sampai saat tahun 2004 kegiatan ini berformat pemberian materi, pentas bakat dan olahraga.
Berapa peserta yang ikut dalam kegiatan ini?
Tercatat pada sekretariat 735 peserta yang terdiri dari 25 paroki, ada 1 paroki yang belum mengirim yaitu dari Paroki Allah Maha Murah Pasang Surut.

Tampilan Salah Satu Kontingen Paroki

Suasana Tenda Utama dalam Sebuah Sesi
Mengapa ada yang tertinggal?
Mungkin karena keterbatasan waktu dan transportasi. Mereka mesti menggunakan speed boat sepanjang Sungai Musi dari Pasang Surut ke Palembang selama kurang lebih 4 jam. Padahal kami sudah mengirimkan formulir jauh hari dan pengurus mudika pun sudah dipastikan mengtahui kegiatan ini. Tapi saya menduga bisa jadi belum ada peserta yang memadahi untuk dikirim ke acara ini.

Dimana acara ini diadakan?
Sejak awal, kegiatan 4 tahunan ini diadakan di Stasi Tegal Arum, Paroki Baturaja. Di Tegal Arum ada sebuah kampung transmigrasi yang mayoritas penduduknya beragama Katolik. Di situ ada lapangan, kebun, kolam, gereja, dan balai pertemuan. Oh ya dekat pula dengan komplek gua maria. Ke depan, tempat itu diproyeksikan menjadi salah satu Youth Centre untuk KAPal. Lokasi tersebut dapat ditempuh dengan perjalanan darat selama sekitar 5 jam dari Palembang, sekitar 10 jam dari Jambi, dan 8 jam dari Bengkulu.
Mengapa disebutkan patokan dari 3 kota tersebut?
Keuskupan Palembang berada di 3 provinsi, Sumatera Selatan yang beribukota di Palembang, Jambi yang beribukota di Kota Jambi dan Bengkulu yang beribukota di Kota Bengkulu. Jadi dapat kita bayangkan cakupan yang sangat luas. Menuju ke Tegal Arum dari ibu kota provinsi saja sudah lama, apalagi dari stasi atau paroki yang lebih pelosok.
Seberapa cukup tempat di Tegal Arum dapat menampung ratusan peserta? Bagaimana dengan tempat tinggal dan sarana MCK?
Kami tinggal menggunakan tenda, terutama peserta. Tiap paroki membawa dan mendirikan tenda sesuai jumlah peserta yang dikirimnya. Sarana MCK untuk kegiatan tahun ini, syukur pada Tuhan, baru saja dirampungkan 2 unit sarana MCK untuk putra dan putri berkapasitas @ 40 orang sekali guna. Syukur pula sumber air yang berdebit cukup besar sudah ditemukan sebulan sebelum acara di mulai, sehingga kita tidak kekurangan air. Daerah Tegal Arum sebenarnya dikenal dengan daerah yang pelit air, alias susah mencari air dalam jumlah besar. Selain sarana MCK permanen, panitia juga membuat WC darurat sekitar 40 buah. Terbuat dari jumbleng dan karung plati, eksotis deh.
Panitia tinggal dimana?
Ada yang tinggal bersama-sama di bangunan TK yang dijadikan sekretariat sekaligus barak penginapan. Ada yang di rumah peristirahatan, ada pula yang tidur di aula gereja sedangkan untuk pembicara tidur di tempat susteran. Sebagian besar panitia adalah mudika dan pendidik lokal yang tentu aja ketika malam tinggal di rumahnya. Rumah mereka toh dekat dengan lokasi perkemahan.
Wah seru juga yah.
Ya seru, Lai. Suasana semarak, puluhan tenda beraneka warna dan besarnya berdiri di tiap sudut  lapangan. Ada yang dihias dengan bendera, gapura, patung, panggung kecil, termasuk jemuran. Orang-orang muda berseliwreran kemari kesana ketika acara bebas. Ada yang ngobrol, diskusi, berdoa dan macam-macam. Bayangkan dari 25 lokasi yang berbeda, tumplek dalam satu lokasi. Ada yang cepat akrab dengan kontingen lain, ada yang masih malu-malu, ada yang maunya dengan teman satu paroki saja. Itulah cermin kaum muda kita, Lai.
Ini soal yang serius, Nas. Bagaimana mereka semua diberi makan? Rasaku tak mungkin seperti Yesus menggandakan roti dan ikan untuk mereka.
Justru karena kami bukan Yesus, maka kami bekerja keras memberi mereka makan. Lai, ada 750-an peserta, panitia 150-an, jadi sekitar 900 orang yang perlu makan 3 kali sehari, untuk acara 3 hari jadi 9 kali total 900 kali 9 yaitu 8100 porsi. Belum termasuk snack 2 kali sehari. Cara kali ini juga sama dengan acara sebelumnya. Panitia menyiapkan seksi konsumsi yang bertugas memasak semua makanan tersebut.
Capek deh seksi konsumsi.
Kami dibantu penduduk setempat, terutama ibu dan bapaknya. Mereka bergiliran memasak atas nama stasi dan paroki. Kami percayakan urusan memasak pada panitia di Tegal Arum, mulai dari peralatan, pembelian bahan mentah dan petugasnya. Urusan menu, mereka mengkonsultasikan dulu dengan panitia besar. Memang petugas memasak bekerja keras. Mulai dari dini hari sudah meracik sayur dan lauk untuk arapan dan makan siang. Pagi sampai siang menyiapkan untuk makan malam dan untuk menu keesokan harinya.
Dimana acara masak-memasak itu? Saya bayangkan pasti membutuhkan tempat yang cukup luas.
Kami mendirikan tenda, kalau tak keliru sekitar 16 tenda, yaitu 8 untuk memasak dan 8 untuk menghidangkan. Kami buat berderet. Kebetulan di seberang lapangan perkemahan ada tanah lapang memanjang di tepi kebun karet. Di situlah kami dirikan tenda konsumsi. Bagian sebelah kiri untuk memasak lalu setelah masak dipindah ke kanan. Peserta antri dan mengambil makanan di sana. Kami menggunakan kayu bakar karena disana banyak sekali kayu bakar, disamping itu jauh lebih hemat daripada menggunakan minyak tanah.

Serunya memasak di dapur umum
Suasana di Salah Satu Sudut Dapur Umum
Bagaimana menyediakan piring , gelas dan sendok untuk manusia sebanyak itu?
Tiap peserta kami wajibkan membawa piring, gelas dan sendok. Mereka akan gunakan sendiri, termasuk urusan mencucinya. Sedangkan peralatan memasak disediakan oleh panitia. Peralatan bagi panitia sudah disiapkan oleh panitia, namun ada juga panitia yang membawa peralatan sendiri.
Bagaimana mengatur ratusan orang saat makan sehingga efektif.
Kami memberi peserta kupon makan yang menunjukkan dimana mereka harus mengambil makan dan minum. Seluruh peserta kami bagi rata dalam 6 meja saji. Waktu makan sekitar 2 jam, termasuk untuk mencuci, istirahat serta acara bebas lainnya.

Mhhh mmm menarik juga. Sekarang Kita ngobrol hal lainnya, Nas. Masih banyak yang ingin saya tanyakan. Mengenai yang teknis-teknis dari pertendaan, keamanan, listrik, dan lain-lain. Lalu belum mengenai kegiatan-kegiatannya, serta pasti menarik juga bagaimana proses menyiapkan itu semua. Saya lompat ke konsep acara, ya Nas.
Silahkan, Lai, mau tanya apa saja. Acara tersebut sudah berlangsung 5 tahun lalu, ya sekitar 6 tahun lebih jika dihitung dari persiapannya jadi  saya jawab semampu dan seingat saya.

---------- b e r s a m b u n g ke bagian 3---------

Tidak ada komentar:

Posting Komentar