Kamis, 17 Mei 2012

1. Pacaran Beda Keyakinan


1. Pacaran Beda Keyakinan

Ini adalah editan salah satu postingan di fb http://www.facebook.com/Komisi.Kepemudaan.KAPall
Kata/ kalimat yang diblok warna kuning menandakan hal-hal yang tidak erat terkait dengan tema utama pembahasan.

Sahabat Anda sudah lima bulan berkenalan akrab dengan seseorang yang disukai dan ditaksirnya. Selama lima bulan sudah sering mereka bertemu untuk saling ngobrol, diskusi, belajar bersama, jalan-jalan, bahkan beberapa kali sahabat Anda sudah diajak bertandang ke keluarga orang yang ditaksirnya tersebut. Mereka tampak senang dengan proses tersebut, apalagi mereka mulai merasakan kebahagiaan ketika berinteraksi. Memang tidak ada pernyataan definitif bahwa mereka berpacaran, tetapi sampai saat ini mereka juga tidak pernah mempermasalahkan hal tersebut. Yang mereka tahu dan rasakan, sepertinya mereka sudah saling cocok, menerima, mengerti, dan mencintai. Mereka pun tampaknya siap melanjutkan hubungan tersebut pada taraf yang lebih serius. Walaupun sahabat Anda seorang Katolik, sementara orang yang disukainya tersebut beragama Kristen Protestan, tampaknya itu tidak menjadi ganjalan bagi relasi mereka. Pada suatu ketika, sahabat Anda minta dukungan Anda akan keberlangsungan hubungan mereka. Sebagai seorang sahabat yang diminta pendapat dan dukungannya, tentu anda perlu menyampaikan pendapat.

(salah satu ilustrasi yang melatarbelakangi konteks soal Debat “Mempertanggungjawabkan Iman Katolik” KYD 2012)

Komkep Keuskupan Agung Palembang Silahkan kalau ada teman-teman yang mau mengomentari; pasti akan memberi "sesuwatu" pada mereka yang sedang memersiapkan Gladi Rohani, khususnya Debat.

Lanie Wijaya Kalau cuma Katolik dan Protestan tidaklah sulit asal saling mencintai mereka dapat kawin campur menurut agama Katolik, yang artinya masing-masing dapat menjalankan iman masing-masing tanpa halangan, buat saya yang penting masih pengikut Kristus dan masih merayakan Natal dan Paskah.

CLara Sarita Bagariank Karena adanya halangan pernikahan beda gereja dan beda agama, semuanya tidak masalah dan memang kalau mereka sudah yakin dan bertanggungjawab atas segala akibat yang akan dijalani, terutama untuk anak yang harus dibaptis secara Katolik.

Fransischa Chiee Hmm, mungkin memang sulit memutuskanya, karena ini berkaitan dengan iman. Tapi jika itu harus terjadi, mereka pacaran, dan akhirnya pun menikah. Ya mungkin, bisa menikah secara dispensasi, kalau yang calonya itu tetap pada imannya sebagai seorang Kristen Protestan. Tapi jika calonnya itu tidak mau menikah di gereja Katolik, ya mungkin memang harus mengalah. Memang sulit melepaskan iman kita yang sudah dibabtis bertahun-tahun. Tapi bagi saya semua agama itu mengajarkan kebaikan, dan 1 yang disembah yaitu Tuhan. Dan Tuhan, sudah merencanakan itu semua, karena jodoh Tuhanlah yang memberi.

Antonius Ariyanto Pendapat saya: kalau sebatas baru pacaran sih tidak apa-apa beda agama, asalkan jangan kebablasen, tetapi kalau sudah pada jenjang pernikahan ya tetap harus bertahan pada iman Katolik, secara umum memang antara Katolik dan Kristen itu sama,tetapi itu adalah hal yang serupa dan tidak sama. Apapun alasannya itu menjadi salah satu halangan pernikahan, dan ke depannya tetap akan menjadi salah satu kendala yang sulit di dalam keluarganya, misalnya di dalam mendidik anak, tentu dari setiap pribadinya akan di didik sesuai dengan agamanya. Apapun alasannya tetap lebih aman satu agama, dan dalam hal di atas salah satu harus mau menjadi Katolik dulu, di dalam sakramen pun kalau beda agama mereka tidak saling menerimakan sakramen tetapi hanya pemberkatan pernikahan saja kalau beda agama/beda gereja. Marilah ini menjadi bekal dan perisapan kita semua sebelum kita melangkah, mencegah lebih baik

CLara Sarita Bagariank Mempertanggungjawabkan iman katolik, sesuai cerita di atas tertulis "tampaknya agama tidak menjadi ganjalan bagi relasi mereka" menurut saya kalimat itu menyatakan kalau mereka bisa berani yakin dan bertanggungjawab atas sgala hal yang akan terjadi. Dari sudut keluarga kita tidak tahu apakah mereka akan merencanakan pernikahan secra Katolik atau Protestan. Karena ada suatu perjanjian yang akan mereka laksanakan jika menikah secara Katolik terutama untuk anak dan jika itu tidak jadi masalah bagi mereka seperti yang saya katakan tadi. Semuanya tergantung kepada mereka.

Fransischa Chiee Semua jawaban ada pada hati mereka masing-masing. Karena semua kembali pada hati mereka, dan merekapun lah yang akan menjalankannya kelak. Karena pada suatu pernikahan selalu ada komitmen, positif dan negatifnya pasti sudah mereka pikirkan, sehingga apapun keputusanya tetap yang terbaik bagi mereka.

Sarda Manalu Katolik sama Protestan sebenarnya tidaklah ada yang diperdebatkan sama-sama satu yaitu memuji Tuhan Yesus Kristus, kecuali yang tidak mengakui Yesus adalah sebagai Sang Juru Selamat baru harus benar-benar dengan khusus untuk didoakan, itu juga jika Tuhan mengizinkan membawa jiwa yang baru untuk memuji Dia boleh-boleh saja dengan catatan orang tersebut mau mengikut Yesus selama hidupnya. Tuhan mengizinkan Katolik dan Protestan itu ada di dunia ini semua tetap satu supaya umatnya saling membangun, sama seperti tangan kanan dan kiri, masing-masing punya tugas yang berbeda, tetapi tetap satu tubuh tidak dapat dipisahkan dari anggota tubuh lainnya. Yang penting Protestan yang mengakui Yesus sebagai Juru selamatnya.

Cornelius Pulung 1. Ketika pada tahap pacaran, tentu tidak masalah bila memiliki pacar yang berbeda agama. Namun bila hendak melanjutkan ke jenjang pernikahan, maka sebaiknya seorang Katolik mengupayakan agar pasangannya juga menjadi Katolik.

2. Bila orang tua atau pihak Protestan tidak ingin menjadi Katolik, maka, dengan segala hormat hubungan yang ada harus diakhiri. Banyak orang bilang "cinta itu perlu pengorbanan". Namun ini tidak berlaku bila berhubungan dengan agama, khususnya bagi orang Katolik. Cinta terhadap Tuhan dan Gereja Katolik haruslah diutamakan diatas segalanya daripada cinta terhadap manusia.
Perintah utama adalah "Kasihilah Allahmu...". Yesus, Allah kita, mendirikan Gereja Katolik (Mat 16 : 18), dan Ia adalah Kepala, Gereja adalah Tubuh-Nya (Kol 1:18,24 ; Ef 5 : 23, 30). Mencintai Allah berarti juga mencintai Gereja. Keduanya tidak terpisahkan.

3. Suami istri yang berbeda keyakinan, bukan merupakan pasangan yang ideal khususnya dalam membesarkan anak kelak. Bagaimana pendidikan moral dan agama si anak? Anak mau ikut yang Katolik ataupun Protestan? Walaupun secara sepintas Katolik dan Protestan terlihat sama, namun terdapat perbedaan yang sangat mendasar khususnya dalam ajarannya (misalnya berdoa untuk orang yang telah meninggal, berdevosi kepada Maria, kitab suci sebagai satu-satunya sumber iman, hanya iman yang menyelamatkan alias sola fide, dst)
Toh kalaupun si anak dibaptis Katolik, apakah nanti orang tua siap menjawab berbagai pertanyaan si anak seputar agama? Bisa-bisa si anak mendapatkan pemahaman yang keliru karena adanya perbedaan pandangan dari pihak Katolik dan Protestan.

4. Lamanya sebuah hubungan berpacaran, ataupun seberapa kuat perasaan cinta yang dimiliki, terkadang tidaklah cukup untuk menentukan apakah seseorang layak untuk dijadikan pendamping hidup. Karena cinta sejati tidak diukur dari seberapa kuat perasaan atau emosi yang dimiliki, juga tidak diukur dari lamanya sebuah hubungan. Paus Yohanes Paulus II memberikan sebuah penjelasan yang indah: “Kekuatan cinta muncul paling jelas ketika kekasih kita tersandung, ketika kelemahan dan dosanya menjadi terbuka. Seseorang yang sungguh mencintai tidak menarik cintanya, tapi semakin mencintainya, mencintai dalam kesadaran penuh akan kekurangan dan kesalahan yang lain, dan tanpa menyetujui kesalahan tersebut. Karena seorang pribadi tidak pernah kehilangan nilai esensialnya. Emosi yang melekatkan dirinya pada nilai pribadi tetap setia kepada manusia” (dikutip dari buku Love and Responsibility, hal. 135)

Romelia Simatupang Yang jelas Katolik, Kristen sama-sama menyembah Yesus. Tuhan telah merencanakan smua indah pada waktunya. Jadi itu tergantung kebijakan dan tanggung jawab mereka.

Antonius Ariyanto Setuju dengan pendapat mas Cornelius Pulung.

CLara Sarita Bagariank Berbahagialah mreka berpasangan beda gereja/agama tapi bisa mempertanggungjawabkan iman masing-masing (pastinya mereka sudah KPP) dan tahu akan konsekuensi yang akan terjadi kemudian. Siapapun tahu hal itu tidak akan pernah ideal. Selanjutnya ke depan apa yang terjadi semua tergantung kepada mereka. Hanya memberi pendapat dan tidak  memaksakan pendapat, komentar teman-teman semua bagus.

Andre Bahar Sebuah kapal tidak mungkin mempunyai dua orang nahkoda.

Irine Nurheman Clara Saya pribadi mengalaminya, saya menikah "beda gereja" dengan dispensasi, kedua anak ikut agama saya, kebetulan suami saya Protestan, tapi untungnya suami saya orang yang pengertian, dia sama sekali tidak membeda-bedakan agama, yang penting sama-sama gereja, dan malah suami saya juga yang mengingatkan kapan anak kami dibaptis secara Katolik, untuk berdoa malampun jika anak saya tidak membuat salib pasti dia bilang "kok gak buat tanda salib". Puji Tuhan dari awal nikah tidak ribet karena suami mau menikah secara katolik dan terima dispensasinya :) Jadi balik lagi ke masing-masing pribadi saja kalau memang mau nikah beda gereja. GBU.

Aditya Krista Kembali ke Tema: Mempertanggungjawabkan Iman Katolik. Pertanggungjawaban biasanya diminta dalam kondisi real dan bukan dalam impian ideal. Kalo omong ideal ya kita akan bilang ya satu rumah satu keluarga harusnya satu agama, pacaran ya cari yang seiman donk, dst. Tapi mari angkat realita bahwa Indonesia itu multikultur, dengan 5 agama di dalamnya.  Prinsip-prinsip dalam Disparitas Cultus dan Mixta Religio saya kira lebih dari cukup sebagai pertolongan pertama. Iman Katolik akan tampak dalam setiap tindakan dan keputusan yang dipilih.

Andre Bahar Mau disparitas cultur kek atau mix religi kek, apalah itu terserahlah ribet amat. Kita harus tahu aturan Gereja jelas tidak bisa diganggu gugat, yang Katolik harus menikah di Gereja, pasangan yang non Katolik harus mengikuti aturan mainnya, kalau tidak mau, putus saja, ini mudah semudah membalikkan telapak tangan, tapi kalau perasaan sudah bermain, gak bisa ngomong lagi gua. 'Cinta' yang membutakan iman bukanlah cinta yang sebenarnya, karena yang utama itu mencintai Tuhan yang adalah cinta itu sendiri. Pikir pake otak jangan pakai hormon dan nafsumu, kawan ini yang bakal kubilang dengan temenku, senang tidak senang itu urusan dia, terima tidak terima itu urusan dia, tapi saya tetap mendoakan dia yang terbaik.

Yusuf Yusufnundimangngori Dasar perkawinan adalah cinta. Menentukan pasangan hidup adalah bebas, tidak memandang suku, agama, ras, pendidikan, dll. Kasus di atas adalah beda agama (Katolik dan Protestan) dan mereka tidak mempersoalkan itu. Dalam artian tidak menjadi halangan. Maka, langkah pertama yang diambil adalah ajak yang Protestan masuk Katolik, jika tidak mau, ambil langkah kedua, yaitu perkawinan dispensasi, dengan segala resiko dan tanggung jawab, termasuk mendidik anak secara Katolik.

Irine Nurheman Clara Betul itu, kita menikah kalau bukan karena dasar cinta tidak akan menikah (kecuali dijodohkan), semua balik lagi ke masing-masing pribadi kok tidak ada yang direpotkan, pasangan mau pindah Katolik bagus,kalaupun pakai dispensasi juga artinya sudah baik, karena pasangan mau dinikahkan secara Katolik, harusnya kita bisa menghargai keputusan tersebut. Memeluk agama adalah kepercayaan masing-masing pribadi jadi tidak bisa kita paksakan, toh pada akhirnya orang-orang yang protes juga tidak akan bantu masalah rumah tangga kita-kan? Mereka hanya bisa bicara di depan tapi segala macam kesulitan yang ada di dalam rumah tangga nanti hanya kita dan pasangan saja yang bisa menyelesaikan. Dan semua pertanggungjawaban kita sama yang di atas kok bukan sesama manusia :) Kalau pada akhirnya dia memang jodoh kita yang diberikan Tuhan, kita mau bilang apa? Mau menunggu yang seiman datang? Kalau tidak datang-datang juga? Belum tentu loh seiman itu juga baik dan tenteram. Jadi semua masalah itu harus dilihat dari sisi negatif dan positifnya juga, pikir dengan kepala dingin sebelum memutuskan, karena pernikahan secara Katolik untuk seumur hidup sekali :)

Andre Bahar Kita tidak diwajibkan untuk menikah, agama kita tidak seperti agama sebelah, kalau jodoh tidak datang-datang juga, mungkin itu panggilan Tuhan kepada kita untuk selibat. Hidup cuma sekali, choose wisely.

Irine Nurheman Clara Silahkan, itu masing-masing pribadi, karena saya hanya berbagi pengalaman saya dan ternyata memasuki pernikahan tahun ke-6 dan kalau dihitung dengan masa pacaran yang 11 tahun, saya seperti di atas yang saya bicarakan, semua saya balikkan ke pribadi masing-masing mau menikah silahkan, mau selibat juga silahkan. Tuhan juga mengajarkan hidup itu berpasang-pasangan, kalau tidak untuk apa ada cerita Adam dan Hawa :) Kasus sekarang juga yang mau selibat tidak semua pasti maju menjadi seorang romo kan? Banyak juga kan yang gagal padahal katanya panggilan, kalau memang panggilan kenapa bisa gagal? So jangan terlalu fanatik menghadapi hal-hal begini, semua pasti ada jalan tergantung kita saja. Saya juga mau menikah dengan suami selain saya cinta, karena sebelumnya saya sudah berdoa novena memohon petunjuk apa benar yang menjadi suami saya adalah pilihan yang tepat, dan jawabannya iya :)

Andre Bahar Cerita Adam dan Hawa tidak ada hubungannya dengan selibat. Saya bilang selibat bukan berarti menjadi seorag Imam, awam juga bisa selibat. Gagalnya seseorg menjadi Imam tidak ada hubungannya dengan topik ini, itu urusan mereka bukan hak saya menjawab dan menghakimi
apa itu fanatik? Pengertian negatif tentang "fanatik" itu membuat orang malas dan menjauhi untuk mengenal lebih dalam iman Katolik, tahu contoh orang-orang yang fanatik di dalam Gereja Katolik? Para Orang Kudus. Jalan apa? Tergantung apanya?
Selamat Anda telah mendapatkan jawaban, semoga Tuhan selalu menyertai keluargamu

Andre Bahar Lagian topik ini juga judulnya "Pacaran Beda keyakinan" belum nikah kan? Baru pacaran kan? Ya have fun saja, asal yang Katolik tahu saja batasan-batasannya yang tidak boleh dilanggar.

Irine Nurheman Clara Dan masalah selibat juga tidak ada hubungannya dengan topik beda keyakinan bukan? Yang ditanyakan adalah masalah "Pacaran Beda Keyakinan" kalau saya pribadi karena saya mengalami sendiri makanya saya bisa sharing, terkadag orang-orang yang belum mengalami tidak akan pernah mengerti bagaimana sebuah hubungan yang didasari dengan beda keyakinan. Masalah fanatik itu jangan dimasukkan dalam kategori gereja, bagi saya membandingkan agama kita dengan agama sebelah tadi itu sudah berupaya menuju kata fanatik karena itu sama saja membedakan :)
Tolong jangan salah tafsir, sekarang begini saja, bagaimanan dengan pengalaman Anda pribadi, apa Anda sudah pernah merasakan pacaran dengan berbeda keyakinan? Atau anda saat ini berhubungan dengan orang yang seiman? Kan paling tidak bisa sharing pengalaman Anda pribadi ke sahabat-sahabat seiman kita :)
Terima kasih untuk doanya :)

Andre Bahar Sharing pribadi bukanlah data akurat karena tidak semua kasus bisa disamakan, mungkin dari sekian banyak ada yang enjoy-enjoy saja tapi kebanyakan tidak enjoy dan pada akhirnya meninggalkan agamanya, atau menganggap persoalan agama itu tidak penting. Membanding-bandingkan agama itu perlu di dunia ini, kita manusia hidup ini mencari kebenaran, apakah agama kita yang paling benar dan fanatik tidak ada hubungannya dengan ini, plis deh jangan samakan pengertian fanatik dengan pemaksaan kehendak dengan kekerasan, bukan itu pengertiannya.

Andre Bahar Lagian Protestan dan Katolik memang beda kok, ini fakta bukan bikinan saya sendiri.


Irine Nurheman Clara Secara mendalam memang berbeda, saya tahu itu, tapi secara universal tetap saja sama, menyembah Yesus Kristus dan kita beribadah di rumah yang namanya gereja :) Jadi jangan hanya melihat dari sisi dalamnya saja tapi lihat sisi luarnya juga.

Irine Nurheman Clara Sedikit kata untuk ubah mindset kita aja, kita hidup di negara yang bukan terdiri dari 1 agama, jadi jangan membuat agama kita menjadi agama yang beda dengan lainnya. Masing-masing agama punya tujuan dan cara sendiri-sendiri, saya bisa bicara seperti ini karena di keluarga saya ada yang Budha, Islam, Protestan, Katolik. Kalau kita mengharapkan harus jodoh yang seiman maaf silahkan hidup di negara yang mengkhususkan agama yang sama saja (walaupun pada kenyataan semua negara itu campur agamanya yang menjadi perbedaan hanya mayoritas dan minoritas). Maaf bukan saya merasa sok tahu, tapi saya sudah mengalaminya secara pribadi makanya saya bisa bicara seperti ini :) Maaf kata apabila ada yang tersinggung. GBU all

Irine Nurheman Clara Kalaupun yang dicari adalah pembenaran bukankah sebaiknya tidak harus memeluk salah satu agama? Karena semua agama pasti mencari bahwa agama merekalah yang terbaik. Kalau toh sharing pribadi bisa membantu pasangan yang saat ini beda agama dan bisa belajar dari pengalaman saya pribadi apa salah? Toh saya hanya mau berbagi, bukankah berbagi itu indah? Mungkin bagi beberapa teman yang belum merasakan langsung bisa berkata seperti itu, tapi bisa dilihat pada saat nanti teman-teman merasakan langsung terjun pacaran dengan beda keyakinan baru bisa angkat bicara, ibarat pepatah "tak kenal maka tak sayang", "tak pernah merasakan, maka tak'kan pernah tahu".

Andre Bahar Sama-sama nyembah Yesus? oke. Beribadah di tempat yang namanya "gereja" (pengertian Gereja yang benar bukan ini), oke. Tapi yang berbeda tetaplah berbeda jangan disama-samakan, jangan mengaburkan kebenaran dengan kepalsuan, untuk belajar sejarah berarti untuk berhenti menjadi Protestan.

Apa itu mindset? mindset adalah cara berpikir, cara berpikir kita menentukan nasib kita, cara berpikir yang keliru berujung pada kekeliruan. Semua boleh ngaku yang paling benar tapi hanya ada satu yang mengaku paling benar dan itu Yesus sendiri yang berkata "Akulah Jalan dan kebenaran dan hidup, tidak ada yang bisa sampai kepada Bapa jika tanpa melalui Aku", ini bukan pembenaran tapi Tuhan sendiri yang bilang, Kristus adalah Kepala dan Gereja adalah Tubuh-Nya, Gereja Katolik adalah Gereja yang didirikan sendiri oleh Kristus di atas St. Petrus. Fakta ini tertulis di Alkitab sayang kita tidak memperhatikan itu, kita tidak bisa bilang mencintai kepala saja tanpa mencintai/mendengarkan tubuhNya dan ingin menjadi bagian di dalam tubuhNya.

Memang masing-masing agama punya cara dan tujuan, Gereja menghormati ini dan menghargai apa yang benar agama-agama tersebut, dan Gereja anggap sebagai persiapan menerima Injil. Sebenarnya tidak masalah nikah beda agama, asalkan berjanji untuk menikah di dalam Gereja dan mendidik anak-anaknya dalam ajaran iman Katolik itu saja, yang jadi masalah adalah orang meninggalkan agamanya untuk menikah di luar Gereja yang berarti ekskomunikasi otomatis. Saya tidak bakal bilang anda sok tahu, di dalam berdebat ini namanya "ad hominem" yang artinya menyerang pribadi, bukan argumen.

Kembali lagi ke topik  "Sebagai seorang sahabat yang diminta pendapat dan dukungannya, tentu anda perlu menyampaikan pendapat." pendapat saya menikah lah di Gereja, jangan tinggalkan Gereja yang telah didirikan oleh Kristus sendiri, jangan buang mahkota mutiara dengan mengambil semangkuk kacang.

Irine Nurheman Clara Kalau hal itu pasti dipertahankan, secara saya menjadi Katolik karena kemauan saya pribadi, dimana kedua orang tua saya Budha, dan Puji Tuhan sampai saat ini tetap bertahan sampai kedua anak sayapun baptis secara Katolik. Intinya kalau kita bisa bertahan secara pribadi tanpa harus merubah orang lain sudah cukup bagi saya, selama pasangan juga menghormati (bahkan suami saya sendiri mau kok beribadah ke gereja Katolik) tidak ada salahnya nikah beda gereja (bukan keyakinan, karena gereja sendiri menyebutnya beda gereja, kalau beda keyakinan itu antara Katolik dengan Islam).
Kalau mereka sampai meninggalkan Katolik saya juga tidak setuju, so far kita sudah beritahu tapi mereka tetap pada pendirian pindah ke agama pasangan apa yang bisa kita bilang, toh saran hanya sebagai pendukung, dosa ditanggung masing-masing kan :)
Saya mungkin hanya sebagian kecil yang menikah beda gereja, tapi paling tidak ada sedikit masukkan bahwa tidak selamanya nikah beda gereja itu tidak baik, syukur-syukur saat nanti pasangan kita mau ikut ke kita, tapi kalaupun tidak gak jadi masalah juga kok, yang penting pasangan sudah menerima dispensasi menikah dengan orang beragama Katolik-kan? Kalau tidak mau ya tinggal bagaimana iman Katoliknya saja lebih mendahulukan iman/cinta.

Yusuf Yusufnundimangngori Saya pikir saran teman-teman sudah sangat mendukung yang mengalami kasus tadi. Saya juga setuju dengan teman karena ternyata tidak ada yang membiarkan meninggalkan iman karena cinta. Bagi saya itu adalah iman yang dewasa. Semoga yang meminta pendapat kita tadi dapat menerimanya dan memperoleh kebahagiaan.

Andre Bahar Bukan kita yang bisa mengubah hati seseorang tapi Roh Kudus, kita hanyalah alat yang dipakai Tuhan, perbuatan kita sehari-hari haruslah menunjukkan bahwa kita adalah benar-benar murid Kristus, tentu saja tidak diperbolehkan memaksakan seseorang agar memeluk agama kita, tapi pewartaan itu tidak cukup kalau hanya perbuatan, pewartaan itu harus dikatakan lewat perkataan. Berbahagialah Anda mbak Irene, karena sedikit cerita bahagia seperti Anda, karena kebanyakan cerita miris yang saya dengar. GBU.

Irine Nurheman Clara Terima kasih mas Andre untuk sharingnya, senang bisa berkomunikasi dengan Anda. Semoga sahabat-sahabat saya di luar sana yang memilih untuk menikah beda gereja bisa berpikir lebih dalam lagi, apalagi yang beda keyakinan (ini rentan terhadap wanita yang memiliki pasangan non-kristiani), ajak pasangan untuk menerima dispensasinya apa dan bagaimana menikah dengan orang beriman Katolik. GBU too all :)

Komkep Keuskupan Agung Palembang Teman-teman yang baik, menarik sekali komentar-komentar yang menyertai postingan ini. Dipersilakan untuk melanjutkan diskusinya karena kami yakin kejadian seperti yang diilustrasikan terjadi juga di banyak tempat di sekitar kita. Siapa tahu melalui pembacaan terhadap komentar-komentar kita, akan memberi pencerahan bagi teman-teman yang lagi galau karena menghadapi kejadian serupa. Salam hangat dari para Komisioner Komkep Keuskupan Agung Palembang.

Nurse Vika Manix Kedua pasangan itu terlebih dahulu berembuk (rapat kecil berdua) untuk membahas langkah mana yang akan dilakukan apakah di Katolik or Protestan, jika mereka berdua tetap pada pendirian mereka masing-masing di situlah kita dituntut untuk belajar mengalah, sama seperti Yesus yang selalu mengalah untuk kebahagiaan umatnya. Hal yang perlu diterapkan adalah Katolik dan Kristen Protestan itu pada dasarnya sama saja, sama-sama menghadap pada Tuhan kita Yesus Kristus, hanya cara ibadahnya saja yang berbeda.

selesai

2 komentar:

  1. Thx untuk artikelnya.

    Di sini ada link untuk memahami pacaran yang benar, silahkan dilihat.
    Pasti akan memberkati Anda!

    http://datinginsightindonesia.wordpress.com

    untuk melihat siaran ini di youtube klik link di bawah ini:

    http://www.youtube.com/watch?v=7EgeN-oXl7k

    BalasHapus
  2. Menurut saya sebenarnya katholik dan protestan memang berbeda.Walaupun terlihat sama. Saya mengalami sendiri setahun saya nyaman dengan laki-laki katholik tapi kami tidak bisa bersatu karena kami beda gereja. Jujur saya sangat sedih tapi percayalah TUHAN jauh lebih mengasihi saya. Saat kita bisa mempertahankan iman Tuhan yang akan membela kita. GBU

    BalasHapus