Kamis, 17 Mei 2012

5. EKM


5. EKM
(23 komentar per 3 Mei 17:40)

Orang Muda Katolik senormalnya adalah kaum yang penuh energi dan kreativitas. Mewarnai kegiatan rohani OMK dengan sentuhan kreativitas tentu menjadi hal yang menggembirakan. Selain bersukacita dalam spiritualitas keimanannya, juga ada kegembiraan saat mempersiapkan, latihan, juga saat melaksanakannya. Pada suatu kesempatan anda sebagai seorang Pastor Paroki sekaligus pastor yang akan mempersembahkan EKM, atau Ekaristi Kaum Muda, mengikuti paparan yang disampaikan panitia. Dalam pertemuan tersebut panitia EKM merencanakan bahwa dalam perayaan ekaristi tersebut lagu-lagu pengisinya akan diambilkan dari lagu-lagu rohani dan populer yang menunjang tema EKM, termasuk salah satunya lagu berirama dangdut. Lagu akan diiringi dengan alat musik band. Homili akan diisi dengan drama komedi sesuai tema EKM. Persembahan akan diarak menggunakan tari kreasi baru. Beberapa petugas liturgi pun akan mengenakan kostum bertopeng sebagai pengejawantahan dari tema. Begitulah sebagian rencana yang disampaikan oleh panitia EKM. Mereka mengklaim bahwa mereka sudah mempertimbangkan semua lagu, iringan, dan acara dalam perayaan ekaristi tersebut sudah disesuaikan dengan tema EKM. Tibalah saatnya Anda sebagai Pastor Paroki yang juga akan mempersembahkan EKM memberi tanggapan. Selain kesempatan untuk mengakomodasi energi, semangat, dan kreativitas OMK, tentu Anda juga harus mempertimbangkan sisi liturgi perayaan ekaristi tersebut. Oh, yha EKM juga akan dihadiri oleh umat kebanyakan, tidak hanya OMK.

(Ini adalah satu ilustrasi yang melatarbelakangi konteks soal Debat “Mempertanggungjawabkan Iman Katolik” KYD 2012)

Silahkan teman-teman menanggapinya.


Komkep Keuskupan Agung Palembang Ayo-ayo, selain kasih "suka" ditunggu komentarnya.
Kali ini berandai-andai jadi Pastor Paroki, kapan lagi lho.

Agnes Theresia Sebaiknya dirancang lebih matang lagi. Karena ada beberapa hal yang tidak bisa diganti atau diubah begitu saja walaupun itu acara Ekaristi buat kaum muda. Tapi ingat kita berada di rumah Tuhan. Kalau yang menjadi lektor pake topeng rasanya gimana ya? Yang dibaca itu firman Tuhan. Kalau masalah lagu pake band ya harus bisa disesuaikan lagi. Kalau khotbahnya diganti drama? Lihat-lihat dulu dramanya, kalau cuma bersifat buat lucu-lucuan lebih baik nonton OVJ di rumah. Kalau drama yang bisa membuat anak muda semakin menyadari dan mengenal Kristus, itu baru oke. Masih banyak hal yang harus dipertimbangkan.

Christophorus Adi Toruan Maap yang Kakak-kakak Komkep tapi kasusnya kurang "menggigit"...heheheeee...saya malahan berandai-andai menjadi Uskup loh......hahahahaaaaa.....

Nurse Vika Manix Jika saya menjadi pastor paroki, pertama saya sangat senang dan bangga karena OMK memiliki jiwa semangat yang tinggi sehingga mampu berkreasi. Kedua OMK nantinya juga akan berkonsultasi tentang bagian-bagian yang akan mereka tampilkan pada EKM so saya akan memilah mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak, seperti untuk lagu Tuhan Kasihanilah tidak bisa diubah dengan lagu rohani lain harus dari Madah Bakti/Puji Syukur, untuk persembahan tidak masalah diiringi dengan tari-tari, untuk lektor tidak dinamis jika yang membaca/mewartakan sabda Allah menggunakan topeng karena perayaan ekaristi ini tidak hanya diikuti OMK mlainkan umat juga so umat nanti bukan mmperhatikan bacaan malah memperhatikan siapa yang di balik topeng itu.

Septo Bonar Sckot'c Mas-mas & mbak-mbak Komkep sepertinya saya setuju dengan pendapat dari Agnes Theresia. Bagaimana pun dalam gereja Katolik ada acara Ekaristi yang sangat kental, yang seharusnya tidak diganti. Sisanya, bisa saja dikolaborasikan dengan bentuk acara lain asal tidak menghilangkan suasana yang khusuk (hening & serius).

Fabian Garuda Angkasa Syalom saudara-saudara terkasih dalam Kristus Yesus. Ini adalah topik bahasan yang sangat menarik :) Menurutku, tiada orang yg berhak untuk melarang bentuk-bentuk persembahan apapun yang dengan tulus ikhlas ditujukan/terarah pada Tuhan. Lihatlah perayaan Misa di beberapa daerah di Papua dimana sebagian umat lelaki masih menggunakan koteka sedangkan yang perempuan top less but not do more hehehe (pernah diliput oleh stasiun tv nasional) Namun ini sifatnya inkulturasi, dimana gereja mungkin tidak mengharapkan terjadinya benturan dalam hal adat/tradisi setempat, melainkan mengakomodasinya dan menjadikannya sebagai gerbang tol pewartaan keselamatan. Nah, sebagai seorang romo, saya tentu sangat mengapresiasi dan mendukung kreatifitas kaum muda, silahkan saja mau dangdutan, pakai topeng, mungkin sekalian OVJ-an. Dengan catatan sekaligus tantangan, bahwa apapun yang dilakukan dapat menciptakan kemeriahan misa, kekhusyukan, dan meningkatkan keterlibatan umat yang turut di dalamnya. Sebagai seorang romo yang telah 30 tahun mengabdikan diri sebagai pelayan umat v(^^,) Saya sangat mengharapkan OMK mampu melibatkan dirinya dalam karya pelayanan apapun. Karena ini adalah perayaan EKM, tiada salahnya sesekali mendengarkan "Alamat Palsu" dengan nuansa gregorian bukan? Atau perarakan dengan kostum dan topeng bala tentara Tuhan? Band pengiring memainkan lagu-lagu ordinarium berirama blues, jazz, atau bossas? Selama itu dipersembahkan untuk Tuhan dan membuat umat terlibat bernyanyi memuji dan memuliakan nama Tuhan, hanyut dan tenggelam dalam kesadaran untuk bertobat, menyesali kedosaan dan sujud di depan altar Tuhan serta mempersembahkan yang terbaik bagi Tuhan tentunya. Halleuya!! Amin CMIIW

Andre Bahar Tanggapan saya, sebagai Pastor mau memimpin Misa ini jika mereka mau memperbaiki beberapa hal yang penting, saya akan mulai dasar pemikiran saya.
Siapa saja yang pergi mengikuti misa sama saja kita berada di Kalvari, kita perlu berdoa, menyadari ini adalah misteri pengorbanan Kristus yang berhubungan dengan Gereja yangg adalah TubuhNya, bukanlah hak saya untuk mengubah, Kristus yang memberikannya kepada Gereja-Nya, kita hanya menerimanya, menyembah, percaya, berdoa, refleksi, dan bersuka cita aktif partisipasi artinya berdoa secara internal bersatu bersama Kristus yang telah memberikan diriNya di salib, yaitu menerima bacaan, mendengar, menyembah, syukur, menyesali dosa, meminta Tuhan mengampuni, juga aktif secara eksternal, yaitu berdiri, duduk, mendengarkan, berlutut, bernyanyi. Tapi aktif partisipasi bukanlah berarti melakukan semua hal, tapi secara internal berdoa bersatu kepada Kristus.
Misa EKM ini bukanlah misa milik orang muda, misa ini adalah misanya Gereja Katolik, misa ini adalah misanya Yesus Kristus, dimana Ia berikan kepada GerejaNya, saya hanyalah pelayanNya, saya tidak bisa menambah atau mengubah sesuatu di dalam Misa [Sacrosanctum Concilium 22]. Gereja Katolik memiliki Pedoman Umum Misale Romawi [PUMR] yg mengatur bagaimana Misa ritus latin dirayakan secara benar, agar dapat memberikan buah yang baik, PUMR berisi 399 paragraf teologi misa, struktur, elemen, jenis misa, mengatur struktur gereja, inkulturasi, ini adalah public worship Gereja Katolik.

Kenapa harus ada aturan dalam Misa? Apakah Anda ingin misa dilakukan seenaknya saja? Sepak bola yang hanya permainan saja ada aturannya, apalagi menyembah Tuhan. Jadi topeng, tarian, apapun itu sebenarnya tidak boleh dilakukan, berpakaian seperti biasa saja, persembahan berjalan seperti biasa saja, tidak perlu tari-tarian. Musik yang digunakan di dalam liturgi haruslah benar secara teologis serta komposisinya menurut ajaran Gereja tentang Musik Suci Liturgi, jadi lagu-lagunya dipilih-pilih lagi yang benar secara teologis dan komposisinya menurut ajaran Gereja tentang Musicam Sacram/Musik Suci Liturgi, jadi untuk band jangan dipakai, organ saja. Karena kalian sudah mempersiapkan band, tarian, topeng, karena menghargai kerja keras kalian saya siapkan lapangan parkir gereja/aula untuk kalian pakai, silahkan bersenang-senang, bersuka cita, menari-nari di sana, bertepuk tangan di sana setelah misa selesai.

Christophorus Adi Toruan Mengenai tanggapan dari Saudara Andre Bahar berarti Misa Pembukaan Temu Akbar Kaum Muda Keuskupan Agung Palembang Tahun 2008 di Tegal Arum, Baturaja yang dibuka oleh Uskup Agung Mgr. Al. Sudarso, SCJ dan beberapa Pastor tidak sah dan tidak layak disebut sebagai Misa. Berarti nantinya Misa Pembukaan KYD Tahun 2012 di Palembang jangan lagi kita buat seperti itu.

Komkep Keuskupan Agung Palembang Saudara Christophorus Adi Toruan, Misa Pembukaan KYD Tahun 2012 nanti ditangani oleh Komisi Liturgi Keuskupan Agung Palembang. Seandainya dirimu ada usulan, silahkan sampaikan melalui kami. terimakasih.

Guntur Wijaya Menarik-menarik haha silahkan debat nya.

Christophorus Adi Toruan Kepada Komkep Keuskupan Agung Palembang, bukannya saya tidak setuju mengenai misa EKM tetapi maksud saya di sini ialah apa benar yang disampaikan oleh Saudara Andre Bahar?  Karena menurut saya saudara kita itu pintarnya luar biasa, sungguh amat pintar beliau. Saya hanya mempertanyakan kepada Saudara Andre Bahar apakah misa pembukaan waktu itu yang kita buat di Tegal Arum, Baturaja layak atau tidak disebut misa? Makanya saya minta tanggapan dari Komkep Keuskupan Agung Palembang karena bisa-bisa nanti kita dituntut oleh Saudara Andre Bahar tersebut, wah bisa bahaya kita nanti nya. Sekian dan Terima kasih. Wasallam.

Nurse Vika Manix Perdebatan yg alot?

Andre Bahar Apa yang saya tulis disini berani saya pertanggungjawabkan, karena apa yang saya tulis adalah apa yang Kardinal Arinze sendiri katakan, siapakah itu Kardinal Arinze? silahkan dilihat sendiri di sini http://www.vatican.va/news_services/press/documentazione/documents/cardinali_biografie/cardinali_bio_arinze_f_en.html

OOT...utk kasus Tegal Arum KomKep tidak perlu repot-repot untuk menjawab hal seperti ini, biar saya saja.

Misa di Tegal Arum bisa disebut Liturgical abuse [pelanggaran liturgi], karena ada beberapa hal yang tidak sesuai dengan rubriknya, lalu pertanyaan selanjutnya apakah misanya sah? Ya! Karena Roti dan Anggur dikonsekrasi oleh Bapa Uskup sendiri menjadi Tubuh dan Darah Kristus, jadi tuduhan Anda itu keliru mengatakan misa di Tegal Arum itu tidak sah!

Silahkan liat video Misa "kreatif" di Tegal Arum itu disini:  
http://www.youtube.com/watch?v=HaYA7p7O1uk&feature=relmfu
http://www.youtube.com/watch?v=QWMGMSUCCho&feature=relmfu
http://www.youtube.com/watch?v=4j41CHJ4rQM

Ada beberapa hal yang harus diperbaiki kedepannya, khususnya di bagian bacaan I dan II [tolong jangan dibuat drama spt ini lagi], tepuk tangan dimana-mana, saya mohon bantuannya kepada KomLit KAPal.

Kemungkinan besar saya akan dikucilkan/dibenci karena hal-hal seperti ini, [jadi orang kok kaku banget dst dll] tapi saya akan menerima hal ini karena Yesus pun dibenci, jadi sebagai sahabat-Nya kemungkinan saya dibenci pun besar, saya akan terima itu sebagai kuk-Nya yang ringan. Semoga LOve, REadyness, SAcrifice tidak cuma menjadi semboyan belaka. Semoga kita makin mencintai-Nya, dengan mempersiapkan diri kita dengan baik sebelum mengikuti Misa, dan rela berkorban untuk menyangkal apa yang menjadi kesukaan kita demi penyembahan kita kepada Yesus yang mau berkorban demi saya dan Anda semua.


=======
artikel sisipan untuk dibaca

Cardinal Burke: “Misa yang buruk melemahkan iman”

Melemahnya iman kepada Tuhan, peningkatan keegoisan dan penurunan jumlah umat yang pergi ke misa di berbagai belahan dunia dapat ditelusuri berasal dari Misa yang [dilaksanakan] tidak dengan hormat dan tidak mengikuti aturan gereja, demikian dikatakan dua pejabat Vatikan dan seorang konsultan.

“Jika kita melakukan kesalahan dengan berpikir kita adalah pusat liturgi, Misa [yang dilaksanakan] akan mengakibatkan hilangnya iman,” kata Kardinal asal AS Raymond L. Burke, Ketua Mahkamah Agung Vatikan (Vatican Supreme Court).

Kardinal Burke dan Kardinal asal Spanyol Antonio Canizares Llovera, prefek Kongregasi untuk Ibadat dan Sakramen (CDW), berbicara pada 2 Maret pada peluncuran sebuah buku di Roma.

Buku ini, yang diterbitkan dalam bahasa Italia, ditulis oleh Pastor Nicola Bux, yang bertugas sebagai konsultan untuk Kongregasi Ajaran dan Iman (CDF) dan kanonisasi santo, serta kantor yang bertanggung jawab atas liturgi kepausan.

Terjemahan bahasa Inggris dari judul buku Bapa Bux akan menjadi, “Bagaimana hadir di Misa dan tidak kehilangan Iman Anda.”

Kardinal Burke mengatakan kepada mereka yang hadir pada presentasi buku bahwa ia setuju dengan Pastor Bux bahwa “pelanggaran liturgi menyebabkan kerusakan serius pada iman Katolik.”

Sayangnya, ujarnya, terlalu banyak imam dan uskup memperlakukan pelanggaran terhadap norma-norma liturgi sebagai sesuatu yang tidak penting, padahal dalam kenyataannya, hal demikian adalah “pelanggaran serius.”

Kardinal Canizares menuturkan bahwa kendati judul buku ini provokatif, buku ini menunjukkan keyakinan yang ia percayai juga: “Berpartisipasi dalam Ekaristi dapat membuat iman kita lemah atau hilang jika kita tidak masuk ke dalamnya dengan benar” dan jika liturgi tidak dirayakan menurut norma-norma gereja.

“Hal ini berlaku baik dalam [misa] forma ordinaria maupun ekstra ordinaria dari Ritus Romawi yang satu,” kata kardinal itu, merujuk pada Misa yang dihasilkan setelah Konsili Vatikan II serta Misa [lama] yang sering disebut sebagai ritus Tridentina.

Kardinal Canizares mengatakan bahwa pada saat begitu banyak orang [menjalani] hidup seolah-olah Allah tidak ada, mereka membutuhkan sebuah perayaan Ekaristi yang benar untuk mengingatkan mereka bahwa hanya Allah yang harus disembah dan bahwa arti sejati hidup manusia hanya berasal dari fakta bahwa Yesus memberikan hidup-Nya untuk menyelamatkan dunia.

Pastor Bux mengatakan bahwa kebanyakan umat Katolik moderen berpikir kalau Misa adalah sesuatu yang dilakukan imam dan umat bersama-sama, padahal dalam kenyataannya, itu [Misa] adalah sesuatu yang dilakukan Yesus.

“Jika Anda pergi misa di satu tempat dan kemudian pergi misa di tempat lain, [dan] Anda tidak menemukan Misa yang sama; ini berarti bahwa itu bukanlah Misa Gereja Katolik -yang menjadi hak umat- melainkan hanya misa paroki tersebut atau misa imam tersebut,” katanya.




Guntur Wijaya Saran aku Andre Bahar neh masukke ke dalam bidang liturgi KYD bae biar dak ado pelanggaran dalam misa lagi cak-cak tahun lalu.

Andre Bahar Kalau Guntur pikir aku kasi masukan ini untuk cari/ngincer jabatan, Guntur salah, ini bukan mauku. Aku mau kito samo-samo beneri ini, bukan dengan tangan aku dewekan.

Guntur Wijaya Lah emang aku berpikir cak itu apo? picik nian aku bepikir cak itu. Aku neh malah salut samo Andre Bahar. Lah tau-tau soal ck itu. Dengan masuk dalam team kan lebih baek. Pandangan-pandangan di luar team biso berbeda.

Christophorus Adi Toruan Untuk selanjutnya saya serahkan kepada Saudara Guntur saja masalah ini karena Saudara Guntur lebih sepaham dan lebih sepaha dari saya. Hahahahaaaaa.

Andre Bahar Maaf saya tidak bermaksud seperti itu kepada Guntur, tawarannya akan saya pikirkan dulu, ini sebuah kehormatan untuk bisa bergabung.

Cornelius Pulung Komentar saya singkat saja: misa itu bukan konser rohani, bukan pula ajang kreativitas, bukan juga tempat untuk dangdutan dan joget-jogetan (jangan sampai ini kejadian saat misa).

Kalo mau putar lagu dangdut, ngeband, ada drama, ada tari-tarian ya lakukanlah di luar misa. Emang urgensinya apa sih semua itu mau dimasukkan dalam misa? Kalau dilakukan di luar misa emang salah? Liturgi itu bukan milik pribadi ataupun kelompok, dan itulah yang dikatakan Paus Yohanes Paulus II: “Liturgi tidak pernah menjadi milik pribadi siapa pun, baik itu selebran atau komunitas di mana misteri dirayakan” (Ecclesia de Eucharistia art. 52).
Jadi, sebagai romo paroki saya juga akan menolak hal tersebut, dan menyarankan agar dilakukan di luar misa di aula paroki, lapangan atau dimanapun itu.

Severinus Klemens Liturgi merupakan doa yang didoakan sepanjang sejarah gereja, maka liturgi tidak dapat diubah-ubah sesuka hati. Selain itu, liturgi merupakan doa seluruh Gereja yang tersebar di segala penjuru dunia: setiap orang Kristiani, terlepas dari tempat tinggalnya, setiap kali memasuki sebuah gereja untuk merayakan liturgi seharusnya merasa berada di rumah sendiri. Kita mesti merayakan liturgi yang tidak boleh kita ubah sesuai dengan selera kita, melainkan sebagai sebuah realitas yang lebih besar dari diri kita, sebagaimana sering dikatakan oleh Bapa Suci Benediktus XVI.

Maka saya ingin mengingatkan kembali bahwa perlu kesetiaan terhadap petunjuk-petunjuk liturgi yang diberikan oleh Gereja. Secara khusus, para uskup dan imam, yakni para pelayan liturgi suci, bukan pemilik liturgi, maka mereka tidak boleh mengubahnya sesuka hati. Setiap orang beriman yang menghadiri liturgi di setiap gereja Katolik, mesti merasa bahwa dia sedang merayakan liturgi dalam kesatuan dengan seluruh Gereja, yakni Gereja masa lampau dan masa kini, serta seluruh Gereja yang tersebar di seluruh dunia, Gereja yang bersatu dengan penerus Petrus dan dipimpin oleh para uskup.
(Nuncio Vatikan untuk Indonesia, Mgr. Antonio Filipazzi)

Oleh karena itu, saya (seandainya saya romo paroki) akan menolak hal-hal dangdutan, drama, lagu rohani populer dll dalam Perayaan Ekaristi.

Panitia EKM-nya ntar saya suruh baca Instruksi Tahta Suci Redemptionis Sacramentum biar tahu mana yang boleh dilakukan dan mana yang harus dihindari.


Severinus Klemens “Dalam hal ini tidaklah mungkin untuk diam mengenai pelecehan-pelecehan [liturgi], bahkan [pelecehan] yang sungguh serius, terhadap kodrat liturgi dan sakramen-sakramen serta tradisi dan otoritas Gereja, yang di masa kita tak jarang mengganggu perayaan liturgi di satu lingkungan gerejani atau yang lainnya. Di beberapa tempat perbuatan Pelecehan Liturgis hampir telah menjadi kebiasaan, suatu fakta yang jelas tidak dapat dibiarkan dan harus berhenti.” (Redemptionis Sacramentum 4). Untung Tahta Suci ngeluarin dokumen ini.

Fabian Garuda Angkasa Ternyata Mimin bisa gag nyambung juga ya wkwkwk piiis. Yah. Yesus sendiri pernah menghadapi pertanyaan-pertanyaan sulit yang terkadang berniat menjerumuskan, misal seputar Hari Sabat. Jadi jangankan masalah Ekaristi yang memang Suci dan dijaga dengan dogma-dogma, untuk hal-hal lain yg mungkin dianggap lebih sepele pun kebenaran Tuhan bisa hanyut dalam kebenaran manusia. Padahal Ekaristi dapat dihayati pula sebagai anugerah yang juga menuntut "kreativitas" umat agar dapat lestari hingga akhir jaman, apalagi diwujudnyatakan oleh Umat Tuhan yang menyebut dirinya Katolik, yang artinya Umum :). Saya pribadi -tetap sebagai romo yg telah 30 berkarya- tidak akan mempersulit diri apalagi domba-dombaku dengan kebenaran dan aturan-aturan itu, yang tentu saja baik untuk dilakukan dengan sepenuh iman namun belum tentu berdosa jika tidak dilakukan sepanjang dalam konteks yang tidak menentang keimanan. Sebisa mungkin umat memahami makna Liturgi sesungguhnya serta hidup dan menghidupkan Liturgi Tuhan dalam diri masing-masing, meskipun belum sempat membaca dokumen-dokumen Vatikan yang berbahasa Alien alias Asing n Latien hehehe... Saya saja nda mudenk :) Mending kon moco Bible ndisek sing tekun... Yo opo oraa sedulur-sedulur wong kito terkasih?! GBU

selesai

2 komentar:

  1. anak baru baptis
    bicara masalah perubahan....
    kita lht sepuluh perintah Allah yang ke-4 dari kitab keluaran 20:8 "ingatlah dan kuduskanlah HARI SABAT"....
    jika melihat kamus alkitab (HARI PERSIAPAN), maka bisa kita ketahui bahwa hari SABAT itu hari SABTU...
    lalu muncul pertanyaan, MENGAPA KITA MENGUDUSKAN HARI MINGGU SEBAGAI HARI TUHAN (SABAT)??????

    jika yg sdh jelas SABDA ALLAH BISA DIRUBAHKAN OLEH MANUSIA, apalagi ini yg "hanya" tata cara beribadat manusia kepada ALLAH....

    SIAPA BISA MENGOMENTARI DAN MENJELASKAN SECARA TERPERINCI TENTANG INI?????

    BalasHapus
  2. tentang mengapa hari sabat dipindah ke hari minggu silahkan lihat link ini http://katolisitas-indonesia.blogspot.com/2012/07/sabat-mengapa-dipindah.html#.UQi-Nlmjd50. jika anda membacanya akan jelas bahwa pemindahan tersebut sangat skriptural. terkait dengan tata perayaan ekaristi.
    ada SATU TEMUAN DARI PENELITIAN ANTROPOLOGIS. SAKRALITAS MEMBUTUHKAN TATANAN UNTUK MEMBUATNYA TETAP SAKRAL. setiap bentuk "mempertanyakan" dan mengubah tatanan tersebut akan membawa potensi kehancuran pada sakralitas tersebut. nah apakah Katholik masih akan mensakralkan bangunan gereja dan Sakramen Maha Kudus?? atau Katholik cukup dipahami sebagai filsafat humanisme dan bukan sebagai institusi agama yang perlu dihidupi... silahkan para Imamlah yang akan menentukan mau dibawa kemana bahtera gereja ini. Sekularitas atau Tradisionalitas. Silahkan baca sejarah, dan dialektika agama-agama terkini. Mana yang mampu bertahan??

    BalasHapus