Selasa, 17 April 2012

OMK & TEKNOLOGI INFORMASI


Materi VIII Pendewasaan Iman PraKYD 2012
 
OMK & TEKNOLOGI INFORMASI

Inspirasi

1 M untuk Membangun Gereja melalui Facebook

Akun FB Gereja Katolik (GK) terbentuk pada tahun 2008. Mulanya sepi pengunjung. Tahun 2009, GK mulai ramai dibicarakan karena posting-postingannya dianggap menarik karena mengandung nilai-nilai Katolik. Pada bulan Februari 2011, Albertus Gregory admin situs jejaring sosial Facebook Gereja Katolik, memposting program Peduli Gereja. Sebuah upaya membantu pembangunan gereja di pelosok Indonesia.
 
”Inspirasi pencarian dana pembangunan gereja melalui FB diawali saat saya mengunjungi Stasi Rawakolang, Paroki St Hilarius, Keuskupan Sibolga. Paroki ini terletak di Tarutung Bolak, Sorkam, di jalur jalan Sibolga Barus, di pantai barat Sumatera Utara,” ujar pria 21 tahun yang merupakan  mahasiswa Universitas Indonesia (UI) semester 8 ini

Saat itu, lanjutnya, tiba-tiba saja muncul inspirasi bahwa harus ada upaya konkret untuk membantu gereja-gereja di pedalaman Indonesia. “Ketika kita nyaman merayakan Ekaristi di dalam gereja, masih banyak saudara kita merayakan Misa di gereja dari susunan papan yang dimakan rayap, bocor, berlantai tanah, dan serba memprihatinkan,” tandas Albertus.
Dari inspirasi itu, Albertus memberanikan diri menyebarluaskan idenya lewat FB. ”Yang pertama kali saya angkat Paroki Santai Perawan Maria Gunung Karmel, di Tigalingga, Dairi, Sumatera Utara,” tambah Albertus. Tak ayal, respons dari anggota GK tak terduga. ”Masyarakat ingin menyumbang untuk gereja tersebut,” terang Albertus.
 
Sampai sekarang, FB-GK sudah membantu pembangunan delapan gereja di daerah terpencil, dan dua gereja di antaranya sudah selesai pembangunannya. ”Sudah setahun program ini berlangsung. Dua gereja sudah selesai dibangun, dan enam lainnya sedang dalam proses,” tegas Albertus. Total sumbangan yang terkumpul hingga 19 Januari 2011 adalah Rp 1.005.135.346 (satu miliar, lima juta, seratus tiga puluh lima ribu, tiga ratus empat puluh enam rupiah), dan masih akan bertambah setiap saat.
 
Agustus 2011, FB-GK menyelesaikan pembangunan di Stasi St Yohanes Pembaptis, Paroki Konrad, Martubung, Rengas Pulau, Medan. Selanjutnya, November 2011, FB-GK menyelesaikan pembangunan Kapel St Paulus, Paroki St Isidorus, Gebangan, Sukorejo, Kab Kendal, Jawa Tengah.

Mekanisme pembangunan

Gereja-gereja terpencil yang memerlukan bantuan dari FB-GK, harus melalui prosedur mengirimkan surat ajuan surat permohonan pencarian dana, dilengkapi data, proposal, jumlah dana yang dibutuhkan, serta foto-foto. Semua itu harus disertai tanda tangan pastor Kepala Paroki, stempel, bahkan jika diperlukan juga tanda tangan uskup setempat. Layak tidaknya ajuan itu diterima, sepenuhnya merupakan keputusan Albertus dan kawan-kawan, setelah berkomunikasi dengan Pastor Paroki tersebut.
 
Ada beberapa syarat permohonan bantuan. Pertama, bangunan gereja secara fisik memang sudah tidak layak digunakan. ”Kriteria ini mengandalkan foto dan informasi dari anggota FB-GK yang tinggal di sana,” lanjut Albertus.

Kedua, mayoritas umat di paroki tersebut berstatus ekonomi menengah ke bawah. ”Karena ada saja paroki yang bangunan gerejanya sudah tak layak pakai, padahal mayoritas umatnya secara ekonomi mampu. Yang seperti ini bisa ketahuan dari proposal yang mereka kirimkan ke FB-GK,” jelas Albertus.
 
Ketiga, prioritas utama adalah gereja di pedalaman dan pinggiran kota. Keempat, jika nominal pencarian dana tidak sesuai dengan target, tidak akan mereka permasalahkan. Kelima, membuat rekening atas nama panitia atau pastor paroki setempat. Keenam, membuat ucapan terima kasih kepada anggota GK melalui FB.
Mereka yang tertarik menyumbang setelah melihat postingan foto di FBGK bisa langsung mentransfer uang ke nomor rekening yang tertera. ”Setelah mentransfer biasanya orang tersebut akan menghubungi saya, kemudian setiap hari saya akan memposting laporan pertanggungjawabannya di halaman FB-GK,” terang Albertus.

Penanggung jawab

Mencari dana untuk gereja-gereja terpencil di Indonesia, memerlukan tanggung jawab cukup besar. ”FB-GK bisa dituduh menipu oleh para penyumbang, serta mencemarkan nama Gereja Katolik yang dibantu, apabila sumbangan tidak bisa dipertanggungjawabkan,” ungkap Albertus.
Awalnya, Albertus menggunakan nomor rekening panitia pembangunan gereja atau pastor paroki setempat. Dalam perkembangan lebih lanjut, laporan pertanggungjawabannya tersendat, dan harus bolak-balik diminta. “Sekarang, saya gunakan nomor rekening saya,” ucap Albertus. “Sebab membuka rekening atas nama FB-GK, juga tidak mungkin karena lembaga ini bukan badan hukum.”

Masyarakat, terutama para penyumbang, pasti menuntut transparansi dari FB-GK dalam melaporkan keuangan. Maka, setiap hari Albertus harus posting laporan pertanggungjawaban keuangan di halaman FB-GK. ”Di situ akan jelas tertera nama penyumbang, alamat, dan nominal jumlah uangnya, serta akan disalurkan ke mana,” lanjut Albertus.

Kegiatan katekese

Selain membantu pembangunan gereja, FB-GK juga aktif berkatekese, dengan 16 admin. Salah satu admin, Cornel Credidi, merasa senang bisa membagikan apa yang ia pelajari tentang iman Katolik kepada masyarakat. “Sangat senang jika mendapat respons yang baik. Meskipun ada kalanya postingan kami mendapat tanggapan negatif dari pengguna FB,” ujar Cornel.
 
Cornel bertugas memposting artikel katekese iman Katolik, jadwal gereja, info gereja yang perlu bantuan, berita Katolik, renungan pagi dan malam. Hal senada juga diungkapkan Servasius Kristian, admin FB-GK lain. Ia senang bisa berbagi katekese Katolik kepada anggota. “Selain dari sana, ia bisa memperoleh tambahan teman baru dari seluruh Indonesia,” ucap pria yang berdomisili di Keuskupan Agung Pontianak ini. Servasius bertugas memposting ajaran iman Katolik, artikel-artikel pertanggungjawaban iman, katekese, dan kata-kata bijak para santo-santa.
 
Servasius mencari bahan untuk diposting dari berbagai situs, antara lain catholic.com, catholic education.org, katolisitas.org, ekaristi.org, dan yesaya.indocell.net. Selain itu, ia juga mengambil bahan postingan dari situs-situs berita Katolik seperti NationalCatholicReporter.org, NationalCatholic Register.com, CatholicHerald.co.uk, GigaCatholic.com, dan newadvent.org.
 
Raffael Angelo, admin FB-GK yang berdomisili di Keuskupan Agung Jakarta, menambahkan, “Saya bertugas memposting artikel Sakramen Tobat, Ekaristi, Devosi, lagu-lagu yang sesuai bacaan Injil, sharing kecil, juga membantu menjawab pertanyaan,” kata Raffael.
Sementara itu, admin FB-GK Maria Bernadette bertugas mengingatkan doa Angelus tiap pukul 12 siang, serta merespons pertanyaan di FB-GK. “Selama saya bisa menjawab dan mencarikan referensi, maka saya kerjakan,” ucap wanita yang berdomisili di Keuskupan Surabaya ini.

Kisah diambil dari http://www.hidupkatolik.com/2012/03/06/gerakan-awam-facebook-gereja-katolik

Pertanyaan Pendewasaan

1.    Bagaimana Kemajuan Teknologi Informasi digunakan oleh Albertus Gregory dan kawan-kawannya untuk mewujudkan gagasan membantu pembangunan gereja di daerah tertinggal? Apa yang akan terjadi atau tidak akan terjadi terhadap gagasan tersebut seandainya mereka tidak menggunakan TI tersebut?
2.    Bagaimana Anda bersikap terhadap segala perkembangan TI? Apakah harus selalu mengikuti/ mencoba/ menguasainya,  ikut tren teman-teman, alergi terhadap TI, atau seperti apa? Mengapa saya bersikap seperti itu?
3.    Sejauh mana Anda memanfaatkan internet? Tidak pernah/ sangat jarang, untuk bekerja, bersosialisasi, mencari informasi, menyebarkan informasi/ gagasan/ pengalaman, atau justru untuk hal-hal yang tidak produktif?
4.    Sekarang, tertarikkah Anda untuk memperdalam & mengembangkan pengetahuan katolisitas menggunakan media TI?
5.    Komitmen kelompok: Adakah komitmen kelompok OMK (Paroki/ wilayah/ stasi) Anda dalam upaya mengembangkan potensi dan keimanan tiap anggota OMK melalui TI?

Renungan

Pada saat kebanyakan orang muda  menggunakan Facebook (FB) untuk bermain game, meng-update status, menampilkan foto bersama teman-temannya, Albertus Gregory dan kawan-kawannya justru memanfaatkan FB untuk merintis dan mengembangkan sebuah gerakan nyata yang positif. Selain membantu pembangunan/ renovasi Gereja di kota-kota kecil di pedalaman Indonesia, mereka juga berkatekese melalui jalur teknologi informasi tersebut.
Semua berawal dari keprihatinan dan kesadaran diri pengelola Facebook Gereja Katolik untuk ikut ambil bagian dalam mewujudkan kerajaan Allah di dunia ini, melalui jalur yang diminatinya. Perkembangan Teknologi Informasi, khususnya dengan semakin mudahnya tiap orang mengakses internet dapat mereka gunakan dengan cerdas. Melalui internet ide-ide mereka dapat dengan mudah disebarkan sekaligus direspon. Para pengguna TI tentu faham bahwa diperlukan prinsip kewaspadaan dalam setiap interaksi di dunia maya, tak terkecuali dalam menanggapi maksud baik Albertus dan kawan-kawan. Mereka sudah berhasil melewati masa itu dengan menunjukkan ketulusan hati yang ditunjang dengan manajemen yang tepat dan transparan. Kini sudah semakin banyak orang yang yakin dan mempercayai mereka untuk mengelola donasinya guna pembangunan gereja di wilayah tertinggal.
16 orang admin/ pengelola akun FB GK yang tinggal terpencar di berbagai daerah di Indonesia, tampaknya tidak terkendala tempat dan waktu untuk berkatekese. Di sela kesibukan masing-masing, mereka tetap bersemangat untuk membagikan , pengetahuan, dan inspirasi tentang katolisitas,  tak lain karena jaringan internet memudahkan karya mereka. Diantara begitu banyak materi katekese, baik dari dalam maupun luar negeri, mereka begitu setia untuk memilahkannya untuk ditampilkan secara pas melalui akun FB GK.
Jaman sekarang, kita tak pelak lagi pasti banyak bersinggungan dengan Teknologi informasi dan jejaring sosial populer, semisal facebook, twitter, blog, youtube, skype, yahoo messenger, dan sebagainya. Apalagi perkembangan teknologi komunikasi sudah memanjakan kita dengan perangkat handphone canggih yang sangat mudah tersambung koneksi internet. Bisa dikatakan, kita bisa mencari dan membagikan apa pun melalui teknologi informasi terkini, nyaris tanpa kendala ruang dan waktu. Bukankah itu sangat menakjubkan?

Perkembangan teknologi, tak terkecuali internet, selalu menarik ditinjau dari berbagai sisi, terutama dua sisi yang bertolak belakang. TI disatu sisi dikembangkan untuk memudahkan orang dalam bekerja dan  berinteraksi, namun hal tersebut juga disertai dengan peluang digunakannya TI untuk tujuan-tujuan kontraproduktif. Pilihan pemanfaatan TI kini ada pada kita sebagai pengguna. Semoga kisah Albertus dan kawan-kawannya yang bisa memanfaatkan perkembangan TI untuk perkembangan gereja dan iman katolik, dapat menginspirasi kita untuk memanfaatkan TI secara lebih bijaksana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar