Senin, 01 Agustus 2011

Tim Pembinaan


Ketika Atnasus kuliah di Unika Soegijapranata Semarang, dia tanpa sengaja tercebur dalam pengalaman pendampingan mahasiswa yang cukup mengesankan. Dimulai saat kakak kelasnya di Jurusan Arsitektur mencari kandidat untuk mengisi posisi tim pembinaan, kisah bergulir. 

Apa itu tim pembinaan? Beberapa  tokoh kampus angkatan 1990 dan 1991, terutama dari Fakultas Psikologi Unika merancang sebuah sistem pembinaan rohani bagi para mahasiwa baru. Saat baru masuk kuliah pun Atnasus mengalami pembinaan tersebut, gado-gado antara latihan kepemimpinan dan retreat  selama 3 hari.  Para senior tadi membentuk sebuah tim yang melayani atau mendampingi kegiatan PRM atau Pembinaan Rohani Mahasiswa. Tim pembinaan adalah orang-orang terpilih dari tiap fakultas/ jurusan yang mengelola PRM tersebut. Hanya 2 orang dari tiap fakultas/ jurusan tiap tahun yang direkrut. Persaingan atau lebih tepatnya peluang untuk menjadi anggota tim tersebut sekitar 20-30% tergantung jumlah pelamar di tiap jurusan. Cukup banyak data dan isian yang  perlu diisi untuk dapat dianalisa oleh para anggota tim senior dalam rangka proses seleksi.

Saat itu tahun 1995, Atnasus yang angkatan 93 bersama Rita dari angkatan 94 terpilih masuk menjadi tim pembinaan perwakilan Jurusan Arsitektur. Kalau tak keliru 12 orang saat itu yang satu angkatan terpilih dari 6 fakultas/ jurusan.  Anggota tim baru “hanya” bertugas menjadi tim operasional/ sekretariat saat pelaksanaan PRM, yang dalam kepanitiaan lebih dikenal dengan OC/ Organizing Committee. Perantim sekretariat adalah mengatur transportasi, akomodasi, perlengkapan, pendaftaran, dan hal-hal operasional lainnya. Yang boleh memberikan materi adalah anggota tim yang lebih senior, angkatan sebelumnya yang dikenal dengan nama tim materi. 

Baru pada PRM tahun 1996, Atnasus dan teman-teman seangkatannya “naik jabatan” menjadi Tim Materi. Saat itu sudah dipilih pula teman-teman untuk menduduki tim sekretariat. Pola seperti itulah yang digulirkan, minimal sampai setahun kedepannya. Dalam tahun-tahun berikutnya, tampaknya proses tersebut tersendat karena sistem PRM mengalami modifikasi dari tingkat rektorat, ditambah komunikasi yang merenggang antar anggota tim yang senior. Maklum, sebagian sudah mulai skripsi, kerja, dan sudah lulus, lagipula sudah cukup banyak anggota tim baru yang bisa menangani PRM.

Atnasus terkesan dengan 2 hal pada Tim Pembinaan, yakni pola rekrutmen dan pembelajaran materi di dalamnya. Tidak sembarang orang/ mahasiswa bisa menjadi anggota tim, mereka harus dipilih dan diseleksi dengan ketat. Setelah terpilih, anggota tim harus mengurus operasional pelaksanaan PRM yang pelaksanaannya memakan waktu hampir 2 minggu. Baru setelah itu bisa menjadi pembicara/ pemateri, di PRM berikutnya, sambil mengajari anggota tim yang baru. 

Dalam proses penyusunan materi PRM, anggota  tim baru dilibatkan dalam tiap proses rapat materi. Bagi yang belum terbiasa berpikir secara mendalam dan detail, mau tak mau diajak berpikir dalam segala sisi ketika menentukan suatu materi PRM. Sering pertemuan dilakukan saat malam, pukul 7 malam adalah saat tercepat untuk mulai, kadang baru pukul 8 atau 9 malam dimulai, selesai paling cepat pukul 10. Berpikir, diskusi, debat, membaca, presentasi, mendengarkan, dan menulis adalah menu utama yang biasa disantap para anggota tim pembinaan. Selain ikut dalam pembahasan materi, dalam mengelola ratusan peserta juga diperlukan ketelitian dan kedetailan, mulai dari membagi gelombang pemberangkatan, mengajukan ijin kuliah, membagi kelompok diskusi, menyiapkan perlengkapan dan lain – lain. Tim Pembinaan Unika adalah awal keterlibatan yang menginspirasi Atnasus untuk terus bergelut dengan kegiatan orang muda Katolik. 

Menjadi seorang pendamping atau pembina atau pelatih, atau apalah istilahnya, terutama dalam kegiatan rohani, kita dituntut bisa mempertanggungjawabkan segala sesuatu yang disampaikan terhadap peserta, baik dalam hal penyampaian materi, maupun skenario respon aksi reaksi. Walaupun apa yang disampaikan singkat dan terlihat sederhana, namun baik jika segala aspeknya sudah dipersiapkan dan bisa dipertanggungjawabkan. Diperlukan kerja keras sekaligus kerendahan hati untuk melakukan itu semua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar